Jaga Lidah Jaga Hati dan Kisah Lukman Al Hakim

  • Share

Fuad Mahbub Siraj (Pengajar Universitas Paramadina)

Puasa membantu untuk melatih menjaga hati dan lidah kita. Dengan puasa lidah dan hati dilatih untuk tidak berprasangka buruk, iri hati dan seluruh penyakit hati lainnya. Lidah juga dilatih untuk tidak bicara yang buruk atau yang tidak menyenangkan bagi orang lain.

Ada kisah di dalam Al Qur’an yang menarik terkait menjaga lidah dan hati. Yaitu kisah  Lukman al-Hakim, ia adalah seorang lelaki yang dikaruniai hikmah oleh Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Ny, (QS.Luqman [31]:12).

Hikmah yang Allah SWT berikan kepadanya antara lain berupa ilmu, Agama, benar dalam ucapan, dan kata-kata yang bijaknya cukup banyak lagi telah dima’tsur.

Bahkan, Jamaal ‘Abdul Rahman mengutip pemaparan Imam Jalalain (Musthafa Jalalain dan Jalaluddin as-Suyuti) mengenai Lukman yang diberi gelar al-Hakim sebagai berikut.

Lukman al-Hakim adalah seorang lelaki yang dikaruniai hikmah oleh Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Ny, (QS.Luqman [31]:12), “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman….” (Al-Qur’an dan Terjemahnya Depag RI : 2005 : 412).

Para ulama salaf (ulama generasi terdahulu) mengalami perbedaan pendapat mengenai asal usul Lukman al-Hakim apakah ia seorang nabi ataukah sebatas seorang hamba Allah yang shalih saja. Lukman adalah seorang budak Habsyi dan tukang kayu. Terhadap kedua pendapat tersebut kebanyakan para ulama salaf setuju kepada pendapat kedua. (Ibnu Katsir : 1990 : III: 427).

Keledai

Sebuah Kisah Lukmanul Hakim Beserta anaknya yaitu ketika Lukman mengajak anaknya untuk menunggangi seekor keledai mengelilingi suatu kota. Pada suatu hari Lukman bermaksud untuk memberi nasihat kepada anaknya maka ia pun membawa anaknya menuju suatu kota dengan menggiring seekor keledai ikut berjalan bersamanya.

Ketika Lukman dan anaknya lewat kepada seorang lelaki, maka ia berkata kepada keduanya : “Aku sungguh heran kepada kalian, mengapa keledai yang kalian bawa tidak kalian tunggangi ?” setelah mendengar perkataan lelaki tersebut Lukman lantas menunggangi keledainya dan anaknya mengikutinya sambil berjalan.

Belum berselang lama, dua perempuan menatap heran kepada Lukman seraya berkata: “Wahai orang tua yang sombong!. Engkau seenaknya menunggangi keledai sementara engkau biarkan anakmu berlari di belakangmu bagai seorang hamba sahaya yang hina!.” Maka Lukman pun membonceng anaknya menunggangi keledai.

Kemudian Lukman beserta anaknya yang ia bonceng melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul di pinggir jalan, ketika mereka melihat Lukman dan anaknya seorang dari mereka berkata: “Lihatlah! Lihatlah! Dua orang yang kuat ini sungguh tega menunggangi seekor keledai yang begitu lemah, seolah keduanya menginginkan keledainya mati dengan perlahan.” Mendengar ucapan itu Lukman pun turun dari keledainya dan membiarkan anaknya tetap di atas keledai.

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan hingga bertemu dengan seorang lelaki tua.
Lelaki tua itu kemudian berkata kepada anaknya Lukman: “Engkau sungguh lancang! Engkau tidak malu menunggangi keledai itu sementara orang tuamu engkau biarkan merangkak di belakangmu seolah ia adalah pelayanmu!.”

Berakal dan Berilmu

Ucapan lelaki tua itu begitu membekas pada benak anaknya Lukman, ia pun bertanya pada ayahnya: “Apakah yang seharusnya kita perbuat hingga semua orang dapat ridha dengan apa yang kita lakukan dan kita bisa selamat dari cacian mereka?”.

Lukman menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya aku mengajakmu melakukan perjalanan ini adalah bermaksud untuk menasihatimu, ketahuilah bahwa kita tidak mungkin menjadikan seluruh manusia ridla kepada perbuatan kita, juga kita tidak akan selamat sepenuhnya dari cacian karena manusia memiliki akal yang berbeda-beda dan sudut pandang yang tidak sama, maka orang yang berakal ia akan berbuat untuk menyempurnakan kewajibannya dengan tanpa menghiraukan perkataan orang lain.” 

Kemudian anaknya bertanya, apakah yang mesti dilakukan oleh orang yang berakal? lukman kemudian menjawab “Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan urusannya.”

Bagaimana agar orang berakal bisa melakukan hal yang demikian ayahanda? karena orang berakal memiliki ilmu dan pengetahuan. 

anaknya kemudian melanjutkan bertanya, bagaimana untuk bisa mendapatkan pengetahuan? Ketahuilah apa yang kamu tahu dan ketahuilah apa yang tidak engkau tahu maka engkau akan mendapatkan pengetahuan. 

Orang-orang yang kita lewati tadi adalah orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan dan tidak punya semangat untuk mendapatkan pengetahuan sehingga mereka berbicara berdasarkan apa yang mereka lihat tanpa melakukan tabayyun terhadap kita. 

Lidah dan Hati

Orang yang berakal dan berilmu pastilah menjaga dirinya dari keburukan. Anaknya kemudian bertanya, apakah yang dapat merusak diri manusia pada awalnya.

Lukman kemudian menjawab yakni lidah dan hati manusia dan keduanya juga yang menjerumuskan manusia kepada kehinaan.

Tidak ada daging yang terbaik selain dari lidah dan hati jika digunakan untuk kebaikan dan tidak ada daging yang terburuk selain dari lidah dan hati jika digunakan untuk keburukan.

Kisah sufi di atas bisa kita jadikan pedoman akan pentingnya menjaga hati dan lidah, karena keduanya merupakan bagian penting yang akan menentukan baik buruknya orang tersebut.

Hal tersebut cukup untuk membuat kita berfikir tentang apa yang kita katakan dan apa yang ada dalam hati kita.

Allah mengetahui semua yang dipikirkan dan semua rahasia hati, termasuk pikiran alam bawah sadar yang mereka sendiri tidak mengetahuinya.

Allah mencatat fakta ini pada beberapa ayat dalam al-Qur’an seperti diantaranya:

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghaabun: 4)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui” (al-Mulk: 13-14)

 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf: 16)

Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya.

Lidah dalam konteks hari ini tidak selalu bermakna ucapan, melainkan tulisan kita di sosial media sekalipun juga bagian dari menjaga lidah. Hari ini kita lihat bagaimana orang menulis di sosial media tanpa pikir dan pertimbangan. Cacian dan hujatan seperti tidak terperiksa.

Allah mengatakan, “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar.” (QS Al-Ahzab:70).

Sementara itu, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam”. (HR Bukhari-Muslim).

Puasa membantu untuk melatih menjaga hati dan lidah kita. Puasa bermakna menahan dan menahan lidah serta hati adalah satu hal yang juga diutamakan.

Dengan puasa hati kita dilatih untuk tidak berprasangka buruk, iri hati dan seluruh penyakit hati lainnya. Lidah kita juga dilatih untuk tidak bicara yang buruk atau yang tidak menyenangkan bagi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya. Nabi Muhammad SAW mengatakan, “ramadhan datang dan ramadhan pergi, namun masih ada dosa seseorang yang belum diampuni oleh Allah”. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut.



  • Share