Oleh : Fuad Mahbub Siraj (Pengajar Universitas Paramadina)

Dalam al Quran, perkawinan dinamai dengan nikah dan zawaj. Pernikahan atau nikah bermakna penyatuan dan zawaj adalah keberpasangan.

Pernikahan hakikatnya adalah tauhid, penyatuan Rahman dan Rahim  Tuhan yang diberi pada laki-laki dan perempuan.

Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan, namun bukan untuk dibeda-bedakan. Laki-laki dan perempuan punya peran yang berbeda dalam keluarga, namun optimalisasi atas potensi keduanya mampu untuk menciptakan keluarga yang Sakinah. 

Suami dan istri harus memiliki kesamaan-kesamaan selain memiliki perbedaan tadi.

Paling tidak terdapat empat kesamaan dan satu perbedaannya, yaitu sama-sama hidup, sama-sama dewasa, sama-sama cinta dan sama-sama bertanggung jawab.

Sedangkan perbedaannya hanya satu, yakni perbedaan jenis kelamin berupa laki-laki dan perempuan. Sama-sama hidup bermakna hidup adalah rasa tahu dan gerak.

Sama-sama hidup harus sama-sama merasa dan sama geraknya serta sama-sama tahu.

Kita dilarang untuk menyembunyikan sesuatu dari pasangan dan jangan bergerak berbeda dengan langkah pasangan kita serta hendaklah selalu merasa dengan perasaan yang sama.

Perbedaan Sifat

Ada perbedaan antara sifat laki-laki dan sifat perempuan, namun perbedaan tersebut bukan untuk dibeda-bedakan serta jangan sampai yang lelaki menjadi perempuan ataupun sebaliknya. Ada sifat yang terpuji bagi lelaki dan ada pula sifat terpuji bagi perempuan.

Sifat terpuji bagi lelaki adalah berani, mudah tangan dan rendah hati.

Sedang sifat terpuji bagi perempuan adalah hati yang tinggi sehingga tidak mudah untuk terganggu, jinaknya layaknya jinak merpati dan tangannya tertutup dalam arti kata tidak boros sehingga selalu memelihara harta keluarganya.

Sifat terpuji yang lain bagi perempuan adalah seorang yang tidak berani bertindak, kecuali setelah berkonsultasi pada pasangannya.

Itu perbedaan-perbedaan yang harus dipelajari dan dipahami agar langkah terus sama ke depan dan perasaan selalu seiya sekata dan ketika itu perkawinan akan langgeng mencapai kesejatian dan tauhid.

Perkawinan hakikatnya adalah tauhid, penyatuan sifat Rahman dan Rahim Tuhan.

Kaya vs Sejahtera

Setiap kita mendambakan keluarga sejahtera.

Namun, jangan dipahami bahwa kesejahteraan semata terkait kepada kekayaan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa, wahai orang-orang beriman, bahwa ada di antara keluargamu yang menjadi musuh kami.

Maksudnya, ada pasangan yang mendorong untuk melakukan hal-hal terlarang oleh agama, sehingga ia melanggar agama, hukum dan lainnya.

Sejak dini Quran memperingatkan hal ini. Kekayaan memang kepuasan hati. Kekayaan ibarat lingkaran. Seberapapun kecilnya lingkaran itu ia tetaplah 360 derajat.

Betapun besarnya sesuatu tapi tidak berbentuk lingkaran ia bukan merupakan kekayaan. Kekayaan adalah kesejahteraan dan kepuasan hati setelah usaha maksimal.

Kesejahteraan bukan kekayaan, tetapi ia harus memenuhi syarat agar seseorang dinamai sejahtera dan keluarga itu dinilai sebagai keluarga sejahtera.

Nabi telah mensyaratkan beberapa hal yang terkait dengan kesejahteraan. Kata nabi, siapa yang di pagi harinya telah merasa aman dan memiliki kesehatan dan afiat serta memiliki makanan dan pakaian maka ia bagaikan telah memiliki seluruh hidangan yang ada di muka bumi.

Rasa aman adalah syarat pertama dari kesejahteraan.

Aman menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan keluarga. Kedua, kesehatan dan afiat. Beda kesehatan dengan afiat.

Sehat berkaitan dengan jasmani dan afiat berkaitan dengan ruhani. Sehat jasmaninya dan afiat ruhaninya, sehingga ia tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran, baik pelanggaran di ranah agama maupun pelanggaran terkait perundang undangan.

Ketiga, cukup sandang, pangan dan papan. Seorang yang tidak memiliki sandang yang cukup untuk dirinya dan keluarganya, tidak memiliki rumah untuk melindunginya dan pakaian yang melindungi dirinya tidak bisa disebut sejahtera.

Kemandirian juga bagian penting bahwa ia tidak menggantungkan diri kepada yang lain.

Agama berkata, bahwa ketergantungan adalah salah satu bentuk dari kesengsaraan hidup.

Setiap orang mendambakan anak, maka keluarga sejahtera adalah keluarga yang memiliki anak namun bukan anak yang banyak, melainkan anak sebanyak kemampuannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya.

Yang perlu digarisbawahi juga dalam membentuk keluarga sejahtera adalah dimana yang bersangkutan perlu memiliki wawasan ke depan dan tidak berhenti pada satu titik di mana ia berada, tetapi terus maju ke depan.

Maju dalam kesejateraan hidup lahir dan maju untuk kesejahteraan hidup berkait mental spiritual.

Maju untuk terus mendapatkan ilmu serta  terus maju untuk meraih kesejahteraan yang didambakannya.