Kendala Utama Siswa Papua Melanjutkan Studi

  • Share

​Salah satu masalah yang ditemui pada siswa hingga mahasiswa dalam belajar Bahasa Inggris di Papua khususnya Kota Sorong yaitu siswa dan mahasiswa masih sangat sulit untuk menjadikan Bahasa Inggris sebagai kebutuhan mereka di jenjang pendidikan.

Hasil studi saya melalui survei menemukan bahwa, dari survey yang ditemukan di lapangan banyak siswa dan mahasiswa mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan selama pandemi covid 19 karena kurangnya kemampuan Bahasa Inggris.

Contohnya ketika mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke jenjang magister (S2), mereka kesulitan mendapatkan sertifikat bahasa asing seperti Test of English as Foreign Language (TOEFL), International English Language Testing System (IETLS) dan Academic English Proficiency Test(ACEPT) yang merupakan tes untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris sebagai syarat utama untuk mendaftar sebagai mahasiswa magister bahkan doktor di perguruan Tinggi baik Dalam Negeri maupun Luar Negeri.

Walaupun semua tes Bahasa Inggris itu bisa diakses dan diikuti melalui online namun mereka tidak memiliki kemampuan dan kesiapan dari segi penguasaan Bahasa Inggris. 

Karenanya kedepannya semua jenjang pendidikan akan dikaitkan dengan penguasaan bahasa asing yaitu Bahasa Inggris sebagai modal utama ketika ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. 

Empat Metode

Di dunia pendidikan baik tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah hingga tingkat Perguruan Tinggi, pelajar wajib dibekali kemampuan bahasa asing di era revolusi industry 4.0 yaitu Bahasa Inggris untuk bisa berkomunikasi secara global.

Siswa mempelajari Bahasa Inggris yang berorientasi pada 4 keterampilan utama yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis dan juga mencakup sub keterampilan yaitu pengucapan dan kosakata.

Selain itu dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris banyak hal yang perlu diperhatikan sebagai seorang guru untuk bagaimana menciptakan pembelajaran Bahasa Inggris yang menyenangkan dan sangat diminati oleh siswa, dari segi materi ajar, metode dan menejemen kelas yang diterapkan selama proses pengajaran.

Masalah Minat

​Selain itu masalah yang terjadi pada siswa di Sekolah Menengah papua yang ingin mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris melalui keikutsertaan dalam program pemerintah yang mewajibkan syarat utama yaitu memiliki sertifikat Bahasa Inggris seperti Test of English for International Communication (TOEIC) yaitu tes kemampuan Bahasa Inggris yang dirancang khusus untuk mengukur kemampuan Bahasa Inggris sehari-hari.

Selain itu banyak lomba-lomba Bahasa Inggris yang bisa mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris siswa seperti lomba debat Bahasa Inggris, lomba pidato dan lomba membaca berita tingkat sekolah menengah yang dilaksanakan sebelum pandemi covid 19 pun tidak menarik perhatian siswa karena mereka tidak memiliki bekal Bahasa Inggris yang maksimal.

Sehingga dari contoh kasus seperti itu bisa disimpulkan bahwa pemerolehan Bahasa Inggris misalkan dikatakan mahasiswa, selama 12 tahun di bangku pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah belum bisa memberikan dampak yang baik untuk mahasiswa tersebut. Ini terbukti bahwa dalam proses pengajaran dan pembelajaran Bahasa Inggris perlu ditinjau kembali dari segi apa yang dibutuhkan siswa dalam belajar Bahasa Inggris dan apa yang menjadi kekurangan dari guru saat proses pengajaran berlangsung.

Studi Kasus Siswa

​Beberapa siswa dan mahasiswa yang telah diwawancarai berpendapat bahwa pembelajaran bahasa ingris yang mereka butuhkan yaitu pembelajaran yang berbasis kontekstual yang mana konsep belajar yang mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan membantu siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu siswa SMK Kota Sorong berpendapat bahwa “pembelajaran Bahasa Inggris itu tidak susah sebenarnya namun kita sebagai siswa inginnya belajar dari lingkungan sekitar kita misalkan benda-benda atau peristiwa yang terjadi disekitar kita saat itu diajarkan dan dihubungkan agar kita bisa mengingat kosakata atau kata-kata baru yang berkaitan dengan benda dan peristiwa tersebut”.

Studi Kasus Mahasiswa

​Selain itu, salah satu mahasiswa dari salah satu Universitas di Kota Sorong berpendapat bahwa “mahasiswa bisa saja belajar bahasa inggris secara mandiri karena teori sudah cukup kita dapatkan dari ruang perkuliahan dan teknologi seperti media online akan tetapi untuk mempraktekannya itu kami mahasiswa butuh cara belajar yang pendekatannya kontekstual yang diterapkan melalui komunikasi misal Bahasa Inggris itu perbanyak pada komunikasi, bagaimana dosen kita itu menciptakan suasana belajar yang penuh dengan praktik. kita juga mau berbicara gunakan bahasa inggris tapi kita merasa takut, ragu dan sebagainya. Di situ kita kurang diberikan penguatan untuk praktik berbicara.

Apalagi pandemi covid 19 seperti ini semakin banyak tugas diberikan namun tidak dipraktekan atau kita butuh pemanasan istilahnya brainstormingtentang tugas-tugas kita apakah salah atau benar nah disitu kan ada komunikasi. Tapi tugas kita hanya dikumpulkan dan lanjut materi dan sangat kurang untuk dipraktikan untuk berkomunikasi”.

Solusi Pendekatan Kontekstual

Solusi yang bisa diberikan dari maraknya keluh kesah mahasiswa tentang masalah yang dialami dalam belajar Bahasa Inggris di masa pandemi covid 19 yaitu guru perlu melakukan langkah awal sebelum pengajaran Bahasa Inggris berlangsung yaitu melakukan analisis kebutuhan siswa dalam belajar Bahasa Inggris seperti topik-topik apa saja yang akan diberikan dan bisa mengembangkan contoh materi dan tugas menggunakan pendekatan seperti apa.

Pengembangan materi ajar menggunakan pendekatan kontekstual sangat sesuai dengan kebutuhan siswa dan mahasiwa di Kota Sorong karena dengan adanya pendekatan kontekstual akan membantu siswa dan mahasiswa mengaitkan pengetahuan yang dia peroleh dari penjelasan guru tersebut terkait materi dengan pengalamannya atau lingkungan sekitarnya. Dari pendekatan kontekstual itu akan menciptakan pembelajaran aktif dan mempengaruhi psikologi siswa dan mahasiswa selama belajar. 

Selain itu pendekatan kontekstual bisa juga mempengaruhi psikologi dari segi emosioanl siswa dan mahasiswa saat belajar. Dari jawaban salah satu siswa SMK mengatakan bahwa “saya merasa bebas mendeskripsikan benda-benda dan tempat-tempat yang ada di sekitar saya, dari situ saya  bisa mendapatkan kosakata baru terkait tugas yang diberikan karena saya langsung praktek dan tahu artinya”.  

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Fajar (2014) menjelaskan bahwa Pendekatan kontekstual siswa lebih banyak terlibat dalam pembelajaran, dan dituntut menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata. Jadi, pendekatan kontekstual dipandang lebih ideal digunakan dibandingkan pendekatan konvensional yang lebih menekankan pada keaktifan guru dalam pembelajaran, seperti dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Oleh karena itu pengajar baik di tingkat Sekolah menengah dan Perguruan Tinggi dituntut untuk lebih cermat dalam melihat kasus yang terjadi pada siswa dan mahasiswanya mengapa tidak ada perubahan yang signifikan dari pencapaian penguasaan Bahasa Inggris, kenapa pembelajaran menjadi pasif dan sangat sulit untuk mengajak siswa berinteraksi. Pengajaran yang berbasis hafalan untuk bahasa inggris sebainya dirubah dengan pendekatan kontekstual karena siswa langsung mendengarkan dan mempraktekan.

Pengembangan materi ajar berbasis kontekstual sangat baik untuk dilakukan apalagi di masa pandemi covid 19 ini sehingga pengajaran yang terjadi secara online tidak mengurangi sedikit pun hakikat pembelajaran Bahasa Inggris yaitu komunikatif. Pengembangan materi Bahasa Inggris secara kontekstual memberikan efek yang positif seperti siswa dan mahasiswa menjadi lebih aktif dalam menyampaikan informasi, ide maupun pendapat. selain itu, materi ajar yang digunakan juga sudah sesuai dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan siswa di Kota Sorong.

Hal ini pun didukung oleh Santoso dkk (2014) menjelaskan bahwa Proses pengembangan buku teks ini dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual yang telah dimodifikasi dan sangat membantu siswa mempermudah memahami materi yang ada serta memberi kesempatan yang luas untuk melatih praktik-praktik ketrampilan berbahasa. Dengan pengajarmengembangkan bahan ajar untuk kebutuhan siswanya bisa dikatakan bahwa pengajar tersebut sangat peduli terhadap kualitas pendidikan di daerahnya dan juga merupakan suatu pengembangan keprofesian berkelanjutan untuk menjadi pengajar yang berkompeten di bidangnya.

Oleh : Isnaini Eddy Saputro, S.Pd, M.Pd (Dosen Univesitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang)

Referensi:

Fajar, F. (2014). Penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan penguasaan penggunaan kosakata bahasa inggris. Jurnal Nalar Pendidikan, 2(2).

Santosa, I. N., Suharsono, N., & Rasana, I. D. P. R. (2014). Pengembangan buku teks bahasa inggris kontekstual sebagai usaha menciptakan situasi belajar aktif bagi siswa kelas VII SMP. Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia, 4(1).

 

  • Share