Oleh: Ridwan Arif (Pengajar Prodi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina)

Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia di bumi. Salah satu bukti yang menunjukkan kemuliaan tersebut ialah dipilihnya manusia sebagai khalifah (al-Qur’an, al-An’am 6:165).

Secara bahasa khalifah berarti atau wakil atau pengganti. Secara istilah khalifah adalah wakil Allah dalam hal kepemimpinan di bumi. Dengan kata lain manusia adalah pemimpin yang diberi amanah untuk mengelola bumi.

Sebagai khalifah, tugas utama manusia adalah membangun kehidupan di bumi sebaik-baiknya (ishlah), memakmurkan bumi dan membina peradaban. Tugas ini meliputi melaksanakan program pengembangan kehidupan yang layak yang diridhai Tuhan (Al-Qur’an, Hud, 11:88).

Berbuat kerusakan di bumi setelah bumi itu dibangun adalah bertentangan dengan semangat kekhalifahan, bahkan boleh dianggap sebagai salah satu kejahatan yang amat besar.

Pemilihan manusia sebagai khalifah mengandung makna bahwa menjadi khalifah Allah di bumi merupakan salah satu tujuan hidup manusia.

Khalifah dan Ilmu

Ketika Allah menyampaikan keputusan-Nya menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di bumi kepada para malaikat, malaikat sempat mengajukan keberatan.

Mereka berkata “Apakah engkau akan menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan membuat pertumpahan darah? padahal kami selalu bertasbih memuji-Mu dan senantiasa mensucikan-Mu”.

Secara tidak langsung malaikat berkata “Kami lebih berhak menjadi khalifah”. Meskipun malaikat mengajukan keberatan, namun Allah tetap pada keputusan-Nya. 

Kenapa bukan malaikat yang dipilih menjadi khalifah? Padahal malaikat adalah makhluk yang dekat dan senantiasa taat kepada Allah SWT, sebagaimana pengakuan mereka di atas.

Dari al-Qur’an kita mendapatkan jawaban, karena malaikat tidak memiliki ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di bumi. Sebaliknya manusia (Nabi Adam as) memiliki ilmu tentang hal itu.

Allah membekali manusia dengan ilmu supaya ia dapat melaksanakan tugas kekhalifahan dengan baik (Al-Qur’an, al-Baqarah, 2:31). Dengan demikian Ilmu berkaitan erat dengan konsep kekhalifahan.

Ringkasnya karena faktor ilmu lah manusia dipilih sebagai khalifah, bukan malaikat (Al-Qur’an, al-Baqarah, 2:31-33).

Ilmu dan Peradaban

Keputusan Allah untuk menciptakan makhluk baru yang bernama manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi juga mengundang tanda tanya.

Padahal sebelumnya Allah sudah memiliki makhluk yang senantiasa mentaati-Nya yaitu malaikat. Pemilihan manusia sebagai khalifah di bumi membuktikan bahwa Allah ingin membangun peradaban di bumi.

Jika malaikat yang ditunjuk sebagai khalifah tentu tidak akan pernah wujud peradaban seperti yang kita saksikan sekarang. Kenapa? Karena dari awal kodrat penciptaan malaikat adalah hanya untuk melaksanakan ibadah tertentu kepada Allah.

Seandainya malaikat yang menjadi khalifah  tentu mereka hanya sibuk melakukan ibadah mahdhah seperti shalat, zikir, bertasbih, tahmid, takbir dan sebagainya.

Pemilihan manusia (Nabi Adam as) sebagai khalifah menunjukkan hubungan yang erat antara ilmu dan peradaban. Juga membuktikan bahwa peradaban dibangun tidak cukup hanya dengan ibadah mahdhah semata. Ilmu pengetahuan adalah syarat utama dan modal awal tegaknya suatu peradaban.

Selain ilmu yang langsung dari Allah berupa wahyu, Allah juga memberi potensi kepada manusia untuk mendapatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Untuk itu ia dibekali dengan panca indera, akal dan intuisi. Dengan panca indera manusia bisa mengamati dan memperhatikan fenomena alam.

Dengan akalnya manusia melakukan perenungan, penalaran dan analisa terhadap objek yang dipandangnya.

Manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ketika menyaksikan fenomena alam. Rasa ingin tahu yang tinggi membawa manusia kepada penelitian terhadap alam semesta yang pada gilirannya menghasilkan ilmu pengetahuan. Dengan akal manusia senantiasa berpikir bagaimana meningkatkan kualitas kehidupannya di bumi.

Secara bertahap, ilmu pengetahuan menghasilkan peradaban berupa teknologi yang banyak membawa manfaat bagi kehidupan manusia.

Teknologi telah membawa perubahan dan kemajuan yang sangat berarti dalam peradaban umat manusia. Tidak dipungkiri kemajuan peradaban yang kita saksikan dewasa ini adalah hasil dari ilmu pengetahuan.