Oleh : Zikraini Alrah (Mahasiswi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Seringkali kita mendengar, untuk apa manusia diciptakan ke dunia ini? maka kebanyakan orang akan menjawab untuk beribadah kepada Allah. Tentu saja jawaban tersebut tidak sepenuhnya salah, karena dalam Al-Qur’an Allah sudah berfirman dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya:

“Tidaklah aku ciptkan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembah Ku)”.

Ayat di atas merupakan tugas utama kita sebagai manusia yang pada dasarnya untuk beribadah kepada Allah, namun apakah ibadah tersebut sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita, yang hanya melaksanakan Rukun Islam dan sepenuhnya hanya untuk beribadah dan melupakan dunia? tentu saja tidak.

Dua Bentuk Kehidupan

Pada hakikatnya, manusia akan mengalamai dua bentuk kehidupan, yakni kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Dunia bermakna singkat dan bahkan rasanya juga sangat singkat. Kita dapat ambil contoh misalnya baru kemaren anak lahir, namun sekarang sudah berada di sekolah dasar. Begitulah dunia, singkat dan rasanya juga sangat singkat.

Akhirat bermakna panjang. Dan rasanya juga sangat panjang. Dalam ayat disampaikan bahwa satu hari hidup di akhirat sama dengan 10.000 tahun hidup di dunia. Ayat lain berkata bahwa satu hari hidup di akhirat sama dengan 50.000 tahun hidup di dunia.

Apakah al-Qur’an tidak konsisten dalam menentukan masa waktu kehidupan akhirat? Jawabnya bukan al-Qur’an tidak konsisten melainkan al-Qur’an ingin menggambarkan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang panjang.

Terkait dua kehidupan ini, maka manusia perlu untuk menyeimbangkan keduanya, meskipun ada yang lebih memilih kecendrungan atas dunia dan ada juga yang cendrung pada akhirat semata.

Menyeimbangkan

Manusia yang hanya condong kepada dunia saja, maka ia akan terus mengejarnya dan tidak akan merasa puas, tetapi manusia yang hanya memikirkan akhirat saja tanpa menyeimbangkan antara kehidupan dunia itu juga bukan jalan yang terbaik.

Yang sering membuat manusia itu lengah akan akhirat adalah karena kecintaanya terhadap dunia yang begitu kuat. Sering kali hati manusia mengejar harta, tahta dan lain sebagainya. Tahta itu sering kali  identik dengan kata kekuasaan.

Apabila manusia tidak bisa menempatkan hati dan pikiranya terhadap apa yang dia miliki seperti harta atau kekuasaan, maka ia akan celaka.

Harta akan membuat manusia terus mencari cara untuk mendapatkannya, begitupun kekuasaan. Hal itu menjadikan manusia semakin terpuruk.

Bagi mereka yang tidak bisa menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat dan beranggapan bahwa harta, kekuasan itu segala-galanyanya maka mereka menjadikan hal itu suatu kesempatan untuk bersenang-senang, berbangga diri dan memperkaya diri semata.

Padahal harta, tahta, dunia itu harus diperlakukan sebaik mungkin agar kita mendapatkan kebahagian dan kesenangan bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat kelak.

Apabila kita mendapatkan harta maupun tahta yang berlebih dibandingkan dengan orang lain, jangan sekali-kali kita merasakan bangga, karena hal itu akan di pertanggung jawabkan di akhirat nanti. Harta, tahta harus diperlakukan sebagai amanah yang dititipkan oleh Allah kepada kita.

Manusia yang tidak bisa mengendalikan dan tidak berlaku baik kepada harta dan tahta itu, maka itu lah yang akan menghancurkan ia kelak dan hal itu harus di pertanggung jawabkan.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan seorang sahabat dan beliau berkata:

Wahai Abu Dzar, sesungguhnya dia(kekuasaan itu) adalah amanah dan di hari kiamat akan menjadi saksi dan sesal kecuali yang mengambil sesuai  haknya dan melaksanakan apa seharusnya dilaksanakan”. (HR. Muslim).

Dunia ini hanyalah tipu daya, bagi orang-orang yang tidak bisa mengimbanginya antara kepentingan dunia dan akhirat, dunia mampu membuat orang terperdaya.

Orang-orang yang hanya berfokus kepada dunia serta berlomba-lomba mendapatkan kesenangan dunia dan melupakan akhirat, sesungguhnya orang itu sangatlah merugi.

Mengejar dunia itu ibarat orang yang berada dalam sebuah permainan yang melelahkan, ujung-ujungnya juga bakalan berakhir dan menyisakan kelelahan.

Allah berfirman dalam surat Al-An’am ayat 32 yang artinya:

Kehidupan dunia hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Kehidupan dunia itu hanyalah bersifat fana dan tidak kekal, yang sesungguhnya kehidupan itu adalah kehidupan akhirat.

Disisi lain sebagian manusia juga terjebak dalam ibadah dan hanya memfokuskan akhirat dengan terus beribadah kepada Allah dan meninggalkan dunia. Sesungguhnya kita sebagai manusia harus menyeimbangkan antara keduanya yaitu antara kehidupan dunia dan akhirat.

Allah berfirman dalam QS Al-Qasas ayat 77 yang artinya:

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan

Allah menyuruh kita untuk mencari kehidupan akhirat dengan menggunakan sebaik mungkin yang telah diberikan kepada kita, baik nikmat sehat, harta, waktu maupun yang lain.

Bahagia Dunia Akherat

Untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat kita harus perlu menyeimbangkan antara keduanya. Jangan karena ketamakan kita terhadap dunia membuat kita lalai dan melupakan akhirat, sebab kecintaan pada dunia tidak akan nada batasnya. Manusia yang tamak atas kecintaannya terhadap dunia ia akan terus memburunya sehingga membuat hatinya tak pernah merasakan puas.

Kesenangan didunia pasti akan hilang, baik itu harta, tahta, kekuatan dan lain sebagainya, bahkan kenikmatan di depan mata saja tidak bisa dinikmati.

Mari sama kita nikmati kehidupan dunia tanpa melupakan akhirat, nikmat di dunia ini merupakan ladang akhirat. Siapa yang menabur kebaikan selama di dunia, maka kelak kita akan memanen kebaikan tersebut.