Oleh : Subhi-Ibrahim (Ketua Program Studi Islam Madani Universitas Paramadina)

Apakah yang kita rasakan saat melakukan kesalahan atau dosa, seperti berbohong? Kita merasa bersalah, atau minimal gelisah. Mengapa muncul rasa bersalah dan gelisah pada diri kita? Jawabannya, karena kita berhati nurani.

Hati nurani berarti hati yang bersifat cahaya atau terang, lawannya hati dzulmani, hati yang gelap. Hati yang terang akan memandu seseorang  dalam membedakan kebaikan dan keburukan, dan sebaliknya. 

Hal ini dimungkinkan karena: Pertama, hati nurani adalah hukum moral yang berasal dari fitrah, asal kejadian manusia. Pada fitrahnya, manusia itu baik karena ada ruh Allah di dalam dirinya (QS.15:29; 38:72).  Artinya, Allah secara tidak langsung berbicara melalui hati nurani tentang  “apa yang seharusnya” (nilai), serta  mengajak melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Oleh sebab itu, saat seseorang menghadapi dilema, yang diperlukan hanya bertanya, dan  mendengarkan secara tulus suara nuraninya.

Jika ada orang berbuat kejahatan, sebenarnya ia bersusah payah melawan fitrah dirinya.  Bertindak bertentangan dengan hati nurani, berarti mengkhianati diri dan Allah SWT sekaligus. 

Kedua, hati nurani adalah saksi perbuatan (Latin: conscientia, con berarti turut, scire bermakna mengetahui). Tidak ada seorang pun yang bisa membohongi diri sendiri karena dirinya (subjek) adalah saksi bagi dirinya sendiri (objek). Yang paling tahu perbuatan kita adalah diri kita dan Allah SWT.

Ketiga, menariknya, selain sebagai saksi, hati nurani pun berperan sebagai hakim yang menghukumi kesalahan kita. Secara intuitif, hati nurani melakukan penilaian dan memutuskan secara langsung:  ini baik, dan itu buruk; ini terpuji, dan itu tercela. Hati nurani menghukum seseorang dengan rasa bersalah, dan kegelisahan. Rasulullah SAW berpesan,”dosa adalah apa yang membuat hatimu resah”.

Dengan demikian, sebenarnya hati nurani adalah alat yang dirancang Allah SWT  sebagai rem perilaku agar manusia terjaga di jalan yang lurus (shirath al-mustaqim). Agar hati nurani berfungsi secara baik, ia harus dirawat. Bagaimana merawat hati? 

Hati laksana cermin, kata Imam al-Ghazali. Cermin akan memantulkan gambar secara baik bila bersih dari debu. Demikian pula hati. Ia memantulkan cahaya kebenaran, menjadi hati nurani,  bila bersih kotoran-kotoran hati. Sebaliknya, jika hati dipenuhi kotoran hati, maka ia sulit untuk memantulkan cahaya.

Dalam kondisi seperti ini, hati menjadi hati dzulmani. Contohnya, seorang pencuri ketika pertama kali mencuri pasti hatinya resah, merasa bersalah dan berdosa.

Artinya, hati nurani aktif. Namun, karena bisikan nurani itu dihiraukan, lalu ia terus-menerus mencuri, pada gilirannya, rasa bersalah dan berdosa itu pun redup, dan kemudian  hilang. Hati sang pencuri menjadi gelap, dzulmani, karena tertimbun noda dosa.Hati nurani adalah  lentera diri, pemandu perjalanan kembali menuju kampung akhirat. Wa Allah a’lam bi al-shawab.