Moderasi Beragama dan Manusia Luar Biasa

  • Share

Oleh: Nanik Yuliyanti

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, moderasi memiliki dua arti, yaitu pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstriman.

Secara garis besar, keduanya mensyaratkan makna keseimbangan; tidak berlebihan namun juga tidak kekurangan.

Lantas, ada apa dengan moderasi agama dan apa signifikansinya dalam kehidupan manusia?

Dalam sejarah, memang tidak dapat dipungkiri banyaknya catatan tentang kekerasan atau bahkan tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan atas nama agama, atas nama Tuhan. Pada akhirnya, banyak yang beranggapan bahwa dunia akan lebih damai dan sentosa tanpa agama.

Ini merupakan kesesatan logika. Menjeneralisir bahwa semua manusia sama dan mengecilkan kemampuan istimewa manusia yang pada dasarnya penuh dengan cinta. Manusia adalah mahluk luar biasa, kemampuannya dalam belajar, beradaptasi dan berkehendak mandiri merupakan beberapa kunci lestarinya manusia di dunia.

Namun demikian, kita harus mengakui bahwasanya kadang hati manusia lemah. Untuk menutupi kelemahan itu, tak jarang manusia bersikap egois dan merasa selalu benar.

Ketika demikian, menjaga keseimbangan akan sulit dilakukan, karena hati kita terlanjur berat menerima pilihan lainnya.

Makhluk Luar Biasa

Bersyukurnya, manusia lagi-lagi mahluk luar biasa yang mudah terbiasa dengan kebiasaan yang biasa dilakukannya. Jika kita terbiasa melihat perbedaan, menerimanya sebagai suatu keniscayaan, bukan merupakan kesulitan.

Jika kita terbiasa hidup damai berdampingan bahkan ketika kita tak selalu sama, menjaga keseimbangan untuk tidak melakukan sesuatu secara berlebihan atau kekurangan tidak akan kita anggap sebagai paksaan.

Tidak pernah ada kebaikan pada apapun yang berlebihan. Begitupun dalam kehidupan beragama. Meyakini bahwa agama kita paling benar merupakan suatu keharusan.

Karena bagaimana mungkin kita akan mampu berserah seluruhnya pada apa yang tidak kita percaya sepenuhnya?

Namun, percaya kalau kita benar tidak lantas menjadikan kita berhak memaksakan apa yang kita percaya dan rasa. Menghargai orang lain sama saja dengan menghargai diri sendiri, pun sebaliknya.

Moderasi agama, lebih mengarah pada hubungan antar sesama manusia.

Kepercayaan kita terhadap agama yang memperindah dunia, layaknya terrefleksi dalam penghargaan kita kepada sesama.

 

  • Share