Baru-baru ini Badan Pusat Statistik merilis hasil sensus 2020. Jumlah penduduk di Indonesia di dominasi generasi Z dan milenial. Terdapat sekitar 25% millenial.

Karenanya, sangat tepat nampaknya menghubungkan politik identitas di Indonesia berdasarkan usia penduduk. Merujuk data terbaru sensus penduduk BPS 2020 tersbut.

Meskipun sebenanrya usia bukan satu-satunya variabel, untuk mengukur orientasi dan pilihan politik. Diperlukan variable-variabel lainnya.

Mumpung hasil sensus penduduk terkini masih hangat, atau baru dirilis.Menarik untuk kita bedah bagaimana perilaku politik, orientasi politik, berdasarkan umur penduduk.

Yang mana penduduknya menganut multi agama, majemuk, terdiri dari banyak suku dan ras. Menganut sistem multi partai. Yang keterikatan dengan partai politiknya tidak terlalu kuat. Cenderung cuek, cenderung pindah-pindah atau tidak loyal.

Bagaimana orientasi pilihan politik anak-anak muda Indonesia, generasi millenial? Adakah korelasi usia dengan politik?.

Stave Taylor, seorang pengajar sekaligus psikolog mengurai hal ini. Tnetunya dengan menggunakan pendekatan psikologi politik.

Steve Taylor pernah menulis sebuah artikel tentang politik Usia. Beberapa argumentasinya Taylor cukup menarik. Tentang perbedaan kecenderungan pilihan politik. Antara orang yang berusia muda dan tua.

Bahwa ada korelasi antara bertambahnya usia dengan orientasi politik seseorang. Dalam menentukan pilihan politik.

Taylor mencontohkan misalnya kegiatan demonstrasi. Demonstrasi, pesertanya, pasti lebih banyak yang muda. Menurut Taylor bukan karena alasan fisik saja. Mengapa yang muda lebih intens dalam melakukan kritik atau demonstrasi. Atas kebijakan pemerintah. Tapi alasan psikologis usia juga berpengaruh.

Stave Taylor menilai bahwa kelompok usia muda cenderung idealistik, sementara yang tua lebih pro status quo.

Taylor megambil contoh studi di Inggris dan Amerika. Menurutnya para pemuda di kedua negara tersebut lebih cenderung ke kiri pilihan politiknya. Sementara kelompok usia tua tua lebih ke kanan.

Di Inggris misalkan, enam puluh persen (60%). Anak muda berusia 18-24 tahun. Lebih memilih partai sayap kiri, Partai Buruh. Sedangkan mereka yang berusia di atas 64 tahun lebih memilih partai kanan, yang lebih konservatif.

Kecenderungan itu hampir sama di Amerika. Ini pula yang menjadi alasan mengapa Hillary Clinton kalah, dari Trump. Ketika itu, pemilu sebelumnya.

Tapi menarik dengan kekalahan Trump oleh Biden, apakah ada faktor usia juga?. Baik usia pemilihnya, ataupun yang dipilih?.

Kalau yang dipilih sama-sama politisi gaek. Tinggal ukur usia pemilih. Who knows, berpengaruh juga.

Dalam urusan nasionalisme, menurut Taylor kelompok usia tua lebih berjiwa nasionalistik jika dibanding dengan kelompok usia muda.

Dalam urusan rasisme. Dan prejudice terhadap etnik lain. Yang tua konon lebih rasis. Daripada yang muda. Lebih berpikiran negative atas pendatang. Atas etnik yang berbeda.

Tentu saja pandnagan Taylor ini merupakan hasil penelitian atas orang-orang dewasa, kulit putih. Di Amerika dan Inggris.

Apakah di Indonesia juga demikian? Jika mayoritas penduduk nanti sudah kaum milenial apakah akan terjadi pergeseran perilaku dan orientasi politik?

Apakah benar argument Taylor?. Kelompok usia muda kurang nasionalistiknya dibanding kelompok usia tua.

Bagaimana dengan di Indoensia? apakah para pemuda memiliki jiwa nasionalisme yang lebih rendah dibanding yang lebih tua?

Menarik membedah ini, pengalaman Pileg 2014 Parpol yang menggarap konten konten millenial faktanya malah tidak berhasil mendulang suara. Millenial terbukti belum memberikan warna politik di Indoensia.

Namun, lagi-lagi hal tersbut masih perlu kajian mendalam. Agar tidak hanya sekedar asumsi.

Setidaknya beberapa poin dari Taylor mungkin bisa dielaborasi. Dengan penelitian lanjutan. Dalam konteks Negara kita. Yang multi partai. Yang politik identitasnya konon sedang naik.

Oleh : Prof. Ahmad Ali Nurdin– (Dekan Fisip UIN SGD Bandung).