Perempuan dalam Kemelut Sejarah: Tribute to Nawal El Saadawi

  • Share

Oleh : Moh Asrori Mulky

Sejarah perempuan adalah sejarah kelam yang diliputi diskriminasi dan eksploitasi. Penuh kepedihan dan penderitaan. Peran mereka di ruang publik dibatasi, bahkan dipinggirkan. Begitu juga dalam ruang domestik dipaksa oleh pekerjaan rumah tangga: kasur, dapur, dan sumur. Seluruh hidup mereka ditindas oleh budaya patriarki, kolonial negara dan agama.

Tulisan sederhana ini saya persembahkan untuk feminis Mesir Nawal El Saadawi yang wafat pada Minggu, 21 Maret 2021 lalu. Nawal menghembuskan nafas terakhir di usia 89 tahun. Usia yang tidak muda. Tapi buah penanya dalam bentuk karya fiksi dan non-fiksi akan lebih panjang dan abadi. Kita patut mengapresiasi “suara”-nya yang lantang menyuarakan hak-hak perempuan yang dibungkam oleh sejarah laki-laki.

Saya pertama kali mengenal Nawal lewat “Perempuan di Titik Nol” yang diterjemahkan dari “Women at Point Zero”. Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Firdaus yang dipaksa oleh keadaan untuk menjadi seorang pelacur. Firdaus mengingatkan saya pada Nidah Kirani, tokoh dalam novel “Tuhan Izinkan Saya Jadi Pelacur” karya Muhidin M. Dahlan.

Kedua novel itu memiliki kesamaan. Sama-sama mengangkat tema tentang eksploitasi tubuh perempuan yang dilakukan kaum laki-laki. Ya, Firdaus dan Nidah Kirani dipaksa jadi pelacur oleh keadaan yang menghimpitnya. Tokoh yang disebut pertama memilih jadi pelacur karena ulah orang-orang terdekatnya. Sementara yang kedua, kecewa dengan sekelompok orang yang “sok suci” yang membuat sejumlah aturan namun malah melanggar semua aturan itu.

Bila kita cermati secara seksama, kesewenang-wenangan, penindasan dan pelecehan dalam segala bentuk dan wujudnya terhadap perempuan jamak terjadi di hampir semua peradaban. Sungguh sangat memperihatinkan memang. Prof. Quraish Shihab dalam “Wawasan Al-Qur’an” membeberkan sejumlah fakta yang memperlihatkan praktek keji terhadap perempuan terjadi pada peradaban Yunani, Romawi, India, China, bahkan Arab pra-Islam.

Yunani yang dikenal dengan pemikiran filsafatnya sempat menempatkan perempuan seperti barang dagangan yang dijualbelikan. Di kalangan elite mereka, perempuan disekap dalam istina-istana yang megah namun tidak memberi kebebasan. Begitu juga nasib perempuan di lingkup rumah tangga hanya menjadi pemuas nafsu suami. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil. Bahkan hak waris pun tidak ada.

Nasib perempuan pada peradaban Romawi, China, India, bahkan pra-Islam juga tidak lebih buruk dari peradaban Yunani. Perempuan pra-Islam mengalami situasi yang sangat menyedihkan. Selain hal-hal (bentuk penindasan) yang sudah disebutkan pada peradaban Yunani, anak-anak perempuan sebelum kedatangan Islam dikubur hidup-hidup demi menjaga marwah dan martabat keluarga. Umar bin Khattab, Khalifah Kedua, pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup dan kemudian menyesalinya.

Di Era modern bahkan kontemporer pun pandangan negatif terhadap perempuan masih terlihat jelas sampai sekarang. Di dunia Islam misalnya, masih ada sekelompok orang mempersepsikan perempuan sebagai mahluk nomor dua—liyan dalam istilah Simone De Beauvoir. Mereka tidak boleh menjadi pemimpin, dilarang keluar rumah meski untuk pendidikan, tidak boleh muncul di ruang publik meski untuk aktualisasi diri, dan sejumlah larangan lainnya. Belum lagi kebijakan politik, ekonomi dan sosial yang merampas kebebasan dan hak-hak mereka.

Nawal dan Perempuan yang Tertindas

Nawal El Saadwi tidak bisa dipisahkan dengan nasib perempuan yang ditindas oleh sebuah sistem dan aturan baku yang bersifat patriarkis. Dia mencoba membongkar tabu agama yang merugikan perempuan namun justru dianggap menguntungkan bagi pihak laki-laki. Nawal menolak keras poligami. Meski praktek itu seolah mendapat legitimasi teks tapi menurutnya semangat Al Qur’an adalah monogami.

Isu poligami memang kerap menjadi isu paling seksi untuk diperbincangkan kapan pun dan di mana pun. Kita tidak bisa menutup mata, ada banyak orang berpoligami bukan untuk membantu dan meringankan beban wanita yang dinikahinya. Justru mereka memilih para gadis sebagai istri. Hal yang sesungguhnya bertentangan dengan cara Nabi Muhammad berpoligami. Nabi menikahi wanita-wanita yang usinya lebih tua dan memiliki banyak anak untuk dinafkahi.

Tubuh perempuan memang selalu menjadi daya tarik dan bisa mendatangkan keuntungan bagi mereka yang ingin memanfaatkannya. Dalam sistem ekonomi kapitalisme misalnya, tubuh perempuan dieksploitasi dalam bentuk iklan. Kemolekannya dipampang untuk menarik konsumen dan mendatangkan pundi-pundi uang yang berlipat.

Di Mesir, Nawal pernah mengkritik agen-agen kapitalisme semacam itu. Dia melihat potret perempuan memakai baju terbuka yang ditampilkan dalam bentuk iklan bukan untuk membebaskan perempuan, melainkan hanya untuk meraup keuntungan dari standar kecantikan yang diciptakan oleh kapitalisme global.

Anggapan bahwa perempuan hanya berurusan dengan masalah domestik dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan dengan menjadikan mereka sebagai tenaga kerja tambahan yang dapat digaji dengan murah, tanpa jaminan sosial dan hak-hak kerja lainnya. Dalam buku “Perempuan dalam Budayata Patriarki” Nawal melihat kapitalisme global yang menyusup ke hampir semua negara Islam telah membuat perempuan makin terpinggirkan. Seolah ingin memberi kebebasan dan kesetaraan kepada perempuan di ruang publik tapi justru sebaliknya.

Nawal dan Gema Perlawanan dari dalam Kubur  

Nawal El Saadawi sudah wafat. Tapi suara perlawanannya yang nyaring akan terus bergema dari dalam kubur. Bahkan bisa jadi lebih nyaring dari sebelumnya. Mengingat para aktivis gender kini jumlahnya makin bertambah banyak, tidak hanya di negara-negara maju tapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Mereka getol berjuang melawan ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum perempuan.

Dalam proses perjuangan itu, tentu saja, para aktivis gender, sedikit banyak, akan menyandarkan visi perjuangan dan argumentasinya pada pemikiran Nawal. Dalam dunia kepengarangan, Nawal, tergolong penulis yang produktif dan mempengaruhi banyak pikiran manusia. Sedikitnya 40 buah buku yang sudah dia tulis, di antaranya Memoirs of a Woman Doctor (1958), Women and Sex (1972), God Dies by the Niel (1974), The Hidden Face of Eve (1979), Women at Point Zero (1983), dan My Travels Around The World (1991).

Buku-buku itu akan selalu menjadi bahan penelitian dan didiskusikan dari zaman ke zaman, dalam waktu yang cukup panjang. Selama ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan masih terjadi di muka bumi ini, maka saat itu pula pemikiran Nawal tetap relevan untuk dijadikan rujukan. Dan bersamaan itu pula suara Nawal El Saadawi makin nyaring menggem walau sudah berada di dalam kubur.

Sumber : Geotimes.co.id

  • Share