Oleh: Auliya Alvin Kholida
Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

Argumen bahwa laki-laki itu kuat dan rasional, sementara perempuan lemah dan emosional merupakan konstruksi budaya. Argumen tersebut sebaiknya tidak disebut sebagai kodrat.

Yang membedakan laki-laki dan perempuan terletak pada biologisnya, itu yang disebut kodrat.

Dalam agama Islam, dalam Al-Qur’an disebutkan beberapa prinsip kesetaraan gender.

Diantaranya yang pertama, perempuan dan laki-laki sama-sama menjadi hamba. Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan kesempatan yang sama dalam statusnya sebagai hamba. Keduanya pun mempunyai yang sama untuk menjadi hamba sempurna. Hamba yang sempurna adalah hamba yang bertaqwa (muttaqun).

Dan untuk mencapai derajat muttaqun tidak dinilai dari perbedaan jenis kelamin, suku bangsa, etnis dan lain-lain.

Prinsip yang kedua yaitu perempuan sebagai khalifah di bumi. Dengan maksud bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin, ketika keduanya dirasa mampu dan memenuhi karakteristik untuk menjadi pemimpin. Untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin, harus belajar dan berlatih, maka keduanya mempunyai hak untuk itu.

Dan untuk perempuan, jangan malu untuk berperan dan memimpin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Lihat, Ibu Megawati Soekarno Putri bisa menjadi presiden, Ibu Khofifah Indar Parawangsa bisa menjadi gubernur, bahkan di jaman sekarang sudah banyak tokoh wanita yang menjadi menteri dan pimpinan organisasi.

Dan prinsip yang terakhir, perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih prestasi.

Konsep kesetaraan gender yang ideal dalam Islam memberikan ketegasan bahwa prestasi bersifat individual, baik dalam bidang spiritual maupun karir.

Melawan Stigma

Setiap individu adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Individu membutuhkan orang lain untuk kelangungan hidupnya.

Karena dalam kehidupan sehari-hari, antar indivifu yang satu dengan lainnya saling memberi pengaruh.

Seolah hal tersebut tidak relevan dengan realitas kehidupan dimana masih ada anggapan bahwa yang kuat itu laki-laki dan wanita itu lemah.

Jujur, saat mendengar kalimat itu saya merasa kurang terima. Sebegitu lemahkah wanita di pandangan masyarakat?.

Hanya karena gender, wanita diremehkan, dipandang sebelah mata, bahkan tidak diberi pintu dan ruang untuk mencari pengalaman serta mengenyam pendidikan yang tinggi.

Karena wanita dianggap tidak mampu bahkan tidak perlu berpendidikan tinggi, “Toh wanita ketika sudah berumah tangga hanya mengurus rumah kan?” kiranya seperti itu opini masyarakat tentang wanita.

Pemikiran seperti itu muncul karena budaya orang jaman dahulu yang menganggap perempuan sebaiknya dirumah saja, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya kembali ke dapur.

Pemikiran-pemikiran itu sudah tentu membatasi perempuan untuk menentukan sendiri pilihan hidup dan masa depannya. Pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga, berpendidikan tinggi, berkarir adalah hak mereka yang siapapun tidak boleh menghalanginya.

Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk dapat melakukan aktualisasi diri dalam pengembangan potensi dan kemampuan dalam menggapai cita-cita yang diinginkan.

Tentunya kita semua tidak asing dengan kisah perjuangan Ibu R.A Kartini, seorang tokoh pahlawan Indonesia yang semasa hidupnya memperjuangkan emansipasi wanita.

Pada jaman Ibu R.A Kartini, ruang gerak wanita sangatlah dibatasi, jangankan untuk bersekolah, keluar dari rumah saja jarang diijinkan.

Dulu, perempuan yang boleh bersekolah adalah mereka yang berasal dari keluarga bangsawan, seperti Ibu R.A Kartini.

Tapi budaya itu tidak serta merta membuat Ibu R.A Kartini senang begitu saja, ia justru memikirkan perempuan-perempuan lain yang tidak seberuntung beliau.

Kita patut berterima kasih kepada beliau dan mengapresiasi perjuangannya. Sehingga generasi perempuan Indonesia di masa kini terselamatkan dari budaya jaman dahulu dan mempunyai kebebasan untuk mengembangkan diri.

Meskipun di era sekarang kesetaraan gender sudah digemakan, kita kaum perempuan tidak boleh hanya bersantai-santai, merasa semuanya sudah dalam keadaan baik.

Karena di luar sana, masih banyak saudara kita yang belum seberuntung kita. Kita harus semakin membuktikan bahwa perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki.

Oleh karenanya, stigma negatif tentang perempuan harus dihentikan dan upaya menghalangi hak perempuan harus dilawan.

Itu semua tergantung dari kesadaran kritis perempuan untuk melawan dan membebaskan diri dari ketiakadilan yang mereka alami.