Oleh:Ridwan Arif, Ph.D  (Pengajar Prodi Agama dan Falsafah Universitas Paramadina)

Ikhlash adalah ruh dari amal ibadah. Amal yang diterima oleh Allah swt adalah amal yang ikhlas sebagaimana firman-Nya “Maka barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan (beramal shaleh) dan janganlah mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada tuhannya” (al-Kahfi 18:110).

Ikhlash berarti bersih, suci, murni, tidak bercampur dengan sesuatu yang lain. Amal yang ikhlash berarti amal yang didasari niat karena allah dan untuk allah semata, tidak dicampuri oleh motivasi selain-Nya.

Seseorang yang tidak ikhlash dalam amalnya berarti telah terjerumus ke lembah syirik (yang tersembunyi) karena ia menyekutukan allah dengan selain-nya dalam ibadahnya.

Ikhlas adalah penentu dari bernilai atau tidak dan; diterimanya amal seseorang.

Tiga Tingkatan Ikhlas

Menurut pengarang kitab al-Hikam, Syekh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari, terdapat tiga tingkatan ikhlas.

Pertama, ikhlas orang Awam. Ikhlash jenis ini ialah amal yang dilakukan karena Allah karena takut siksa-Nya dan berharap masuk surga-Nya. Amal tersebut bebas dari sifat riya’, ‘ujub dan sum’ah. Kedua, ikhlas para pecinta (Muhibbin).

Ikhlas orang awam adalah tingkatan ikhlas paling bawah. Kenapa? Karena, meskipun ikhlas jenis ini sudah bebas dari sifat-sifat tercela yang dapat merusak ikhlas seperti riya’, sum’ah dan ‘ujb, namun masih mengandung kepentingan pribadi yaitu ingin mendapatkan keselamatan di akhirat berupa terhindar dari siksa neraka dan mendapatkan kenikmatan surga.

Kedua, beramal karena Allah karena karena cinta kepada Allah dan mengagungkan-Nya.

Ikhlas jenis kedua adalah ikhlasnya para pecinta (muhibbin). Tokoh sufi wanita, Rabi’ah al-‘Adawiyah adalah penganut tasawuf mazhab cinta. Ia sangat geram dengan orang yang beribadah kepada Allah dan masih mengharap ganjaran.

Diceritakan pada suatu hari ia membawa air dengan bejana. Ketika berpapasan dengan orang-orang di jalanan ia, ada yang bertanya, “Untuk apa air ini wahai Rabi’ah?”. Ia menjawab, “Untuk menyiram neraka, karena masih banyak orang beriman yang beramal karena takut akan siksaan neraka”.

pada kesempatan lain ia membawa obor, lalu ada yang bertanya, “Untuk apa ini?”. “untuk membakar surga, karena masih banyak orang mukmin yang beramal karena mengharapkan ganjaran kenikmatan surga”, jawabnya.  

Ketiga, ikhlas para sufi yang telah mencapai makam ‘Arif billah. Seseorang yang telah mencapai level ini memandang amal ibadah yang dilakukannya semata-mata anugerah dari Allah SWT.

Ikhlas jenis ketiga adalah tingkatan ikhlas yang paling tinggi. Kenapa? Karena selain telah bebas dari sifat-sifat tercela dan berbagai kepentingan pribadi, para ‘arif tidak lagi menisbahkan amal kepada dirinya, tetapi  kepada allah. ‘arif memandang bahwa amal ibadahnya terwujud bukan karena daya upayanya sendiri, melainkan kurnia Allah semata.

Allah-lah yang menganugerah kehendak (iradah) ke dalam hatinya, sehingga hatinya tergerak untuk beribadah. Allah juga yang memberinya daya yang membuat dia mampu melaksanakan amal ibadah tersebut.

Seyogyanya setiap muslim mendambakan jenis ikhlas tertinggi ini. Jika seseorang melakukan perenungan yang mendalam, tentu ia menyadari sungguh tak layak baginya berada di ikhlas tingkatan pertama pertama.

Karena pada level ini dia masih pamrih dalam beramal. Padahal, jika dia mau berpikir tentang betapa banyak nikmat Allah yang telah ia terima, tentu dia akan merasa malu mengharapkan ganjaran amal dari Allah berupa pahala.

Bukan berarti kita mendustakan janji Allah tentang siksa neraka bagi manusia yang ingkar dan nikmat Surga bagi manusia yang beriman dan taat kepada-Nya. Tidak ada tendensi meremehkan siksa neraka dan kenikmatan surga.

Kita meyakini adanya Surga dan neraka yang merupakan hal-hal ghaib dan wajib kita imani. Kita yakin sepenuhnya akan janji Allah tentang siksaan dan ganjaran kenikmatan.

Namun bagi seorang mukmin, hendaknya tidak menjadikan hal itu sebagai motivasi dalam beramal, kecuali bagi para pemula.

Motivasi Ibadah

Cukup tiga hal saja yang menjadi motivasi bagi kita dalam melakukan amal ibadah.

Pertama, beribadah kepada Allah karena menunaikan ‘hak Ketuhanan’ (rububiyyah) Allah SWT. Allah adalah Tuhan semesta alam, selain-Nya adalah makhluk. Sebagai Tuhan, (pencipta, pemilik dan pengatur) alam semesta Ia layak disembah (diibadahi).

Kedua, sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah kita terima baik nikmat lahir (fisik-materil) maupun nikmat batin (mental-spiritual).

Ketiga, mengharap ridha Allah. Sebagai hamba tentu kita berharap ridha dari Allah, ilah dan Rabb dan tidak mengingkan murka-Nya. Meraih ridha Allah ialah cita-cita tertinggi yang ingin diraih oleh seorang mukmin.

Seorang yang sudah mendapat ridha-Nya, insyaallah terhindar dari siksa neraka dan dimasukkan kedalam surga-Nya, hidup bahagia dan kekal di dalamnya.