Tren dan dinamika sosial media di Jawa Timur, diprediksi akan meningkat menjelang Pilkada serentak 2020. Pemilihan legislatif dan pilpres lalu, telah menjadi penguat bagi para politisi dan relawan, bahwa kampanye melalui perangkat di sosmed sangat efektif dalam perolehan suara.

 

Pegiat sosial media dan aktivis kemasyarakatan, Najih Farhoq mengungkapkan bahwa, selama pemilihan legislatif, sosial media telah menjadi perangkat penting bagi banyak calon legislatif untuk mendapatkan suara.

“Di luar konteks kalah-menang, terpilih atau tidak terpilih, tapi secara efektif saya melihat bahwa media sosial telah menjadi perangkat penting dalam kontestasi politik,” kata Najih Farhoq yang juga akrab dipanggil Gus Najih ini.

Gus Najih memprediksi, peningkatan pengguna maupun dinamika percakapan di sosial media menjelang Pilkada 2020 di Jawa Timur, akan meningkat tajam. “Ini menunjukkan pada para calon atau politisi yang akan maju dalam pilkada, bahwa menyiapkan tim atau perangkat sosial media, adalah faktor yang penting,” katanya.

“Namun, yang lebih penting dari itu adalah penyiapan konten atau materi kampanye,” kata Gus Najih.

Hal ini menjadi penting, karena pada masa kontestasi Pilpres dan Pileg lalu, frekuensi munculnya hoaks atau berita bohong, termasuk juga black campaign sangat tinggi. Karenanya, menjadi penting bagi para politisi dan relawan untuk memahami secara benar dan tepat, bagaimana penggunaan sosial media.

“Masyarakat juga saya lihat mulai dewasa. Hoaks atau black campaign, adalah cara-cara yang berbahaya dalam kontestasi demokratis. Karena itu, sebaiknya sejak awal, para calon yang akan maju pilkada segera menyiapkan strategi dan pengelolaan yang baik jika melakukan kampanye melalui medsos,” kata Gus Najih, yang juga dikenal sebagai Gus Milenial dari pondok Sunan Kalijogo, Surabaya ini.(*)