Mendekati hari H Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, produksi hoaks semakin meningkat. Masyarakat, terutama generasi milenial dituntut lebih bijak dalam menerima dan menyebar informasi.

Atas dasar fenomena itu, Second House bekerja sama dengan DPM Fakultas Ekonomi dan BEM Fisip Universitas Djuanda Bogor mengadakan diskusi dengan tema “Milenial Cerdas dalam Menggunakan Hak Pilih dan Menangkal Hoax” di Unida, Bogor, Kamis (11/04/2019)

Salah satu pembicara, Yusuf GG Seran, yang juga dosen Fisip Unida, mengatakan bahwa hoaks yang semakin marak saat ini sengaja diproduksi untuk mendapatkan suara.

“Ini seperti tipu daya berujung pada fitnah, maka dari itu selalu cek terlebih dahulu benar atau tidaknya informasi tersebut,” kata Yusuf.

Yusuf kemudian berpesan kepada Mahasiswa untuk bijak dan cerdas memilih informasi, khususnya yang berkaitan dengan pemilihan calon presiden, wakil presiden, serta wakil rakyat.

Selain Yusuf GG Seran, diskusi itu juga menghadirkan Nanang Suryana (Peneliti Muda PSPK UNPAD), Vidya Nurrul Fathiya (Pegiat Second House) dan Zunnur Roin sebagai moderator.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi Unida, Dr. Lucky Hikmat Maulana, M.Si mengapresiasi kegiatan ini yang juga merupakan rangkaian dari Milad Unida ke-32.

Dalam sambutannya, Lucky mengatakan, Hoaks dapat menjerumuskan masyarakat ke dalam kebohongan dan fitnah.

“Bagi para mahasiswa harap simak apa yangg disampaikan khususnya tentang hoaks yang dapat menjerumuskan kita ke dalam kebohongan dan fitnah, cerdaslah dalam memilah dan memilih informasi,” ujarnya pada saat memberikan sambutan.

Sementara itu, Ir. Nur Rochman, MP selaku Direktur Kemahasiswaan menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial yang menjadi fondasi dasar pemikiran.

Menurutnya, dalam perkembangan generasi milenial tumbuh sebuah kebiasaan yaitu sulit untuk melepaskan diri dari gadget.

Generasi milenial menggenggam dunia dalam teknologi gadget, bahkan setiap informasi dan berita terkini dapat langsung dikonsumsi serta di-share kembali ke setiap orang.

Sedangkan informasi itu belum tentu benar adanya, sehingga memunculkan masalah baru, seperti kebohongan public.

“menyikapi hal tersebut kita sama-sama harus lebih bijak dan tabayyun dalam menerima serta menyebar luaskan pemberitaan kepada masyarakat sehingga informasi tersebut bermanfaat dan tidak menyesatkan” tutur Nur Rochman. (*)