Ada cerita menarik yang disampaikan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro ketika melakukan uji coba nain MRT (Mass Rapid Transit). Katanya, pembangunan MRT Jakarta ini sebenarnya sudah terlambat.

Cerita Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro ini disampaikan ketika meninjau pembangunan moda raya terpadu berbasis rel listrik (Trial Run Mass Rapid Transit/MRT) pada Jumat (01/02/2019), di Bunderan HI, Jakarta.

Saat itu, Menteri Bambang bertemu langsung dengan Direktur Utama MRT Jakarta, William Sabandar. Menteri Bambang menjelaskan sejarah pembangunan MRT Jakarta. Katanya, pembangunan MRT Jakarta sebenarnya terlambat.

Karena, MRT Jakarta sudah didesain pada 1990-an. Tapi, baru mulai tahap konstruksi pada 2013. “Kalau kita terlambat membangun infrastruktur akan ada wasting of resources, energy, dan money. Kita benar-benar telah menyia-nyiakan potensi ekonomi yang harusnya sudah berkembang sejak 1990-an,” katanya.

“Lalu, kita diamkan hingga 2013. Yang menyedihkan, masih ada diskusi klasik tentang financial benefit versus economic benefit. Sampai kapan pun, proyek MRT dimana pun di dunia, jarang yang bisa profit. Harusnya, kita berpikir economic benefit. Mungkin uang secara riil tidak kelihatan, tapi manfaatnya dapat dihitung dengan pendekatan ekonomi, bukan dengan pendekatan finansial. Kita juga harus memandang MRT Jakarta bukan hanya sekadar alat transportasi semata, tapi juga sarana untuk mendorong perekonomian,” kata Menteri Bambang.

Turut hadir dalam rombongan peninjauan itu dari Kementerian PPN/Bappenas, yaitu: Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas Gellwynn Jusuf, para Deputi dan Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas, Staf Khusus Menteri PPN/Bappenas Eko Putro Adijayanto, serta Kepala Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan Parulian Silalahi.

Menteri Bambang menjelaskan, dengan menggunakan MRT Jakarta, penumpang dapat menempuh perjalanan dari Bundaran HI ke Lebak Bulus selama 30 menit. Ini bisa dicapai dengan kecepatan maksimal 80 km/jam di bawah tanah dan 100 km/jam di jalur layang.

Ke depan, MRT Jakarta juga akan diintegrasikan dengan Trans Jakarta, sehingga semakin menyokong pergerakan antar moda di kawasan perkotaan.

Untuk Tahap I, Koridor Lebak Bulus-Bundaran HI, jumlah penumpang ditargetkan 412 ribu per hari pada 2020. Sementara untuk Tahap II Koridor Bundaran HI-Lebak Bulus ditargetkan 630 ribu penumpang per hari pada 2037, yang didukung Traffic Demand Management (TDM) dan Transit Oriented Development (TOD).

Untuk itu, Menteri Bambang menaruh perhatian yang besar terhadap pengembangan TOD di sepanjang koridor MRT Jakarta. “Saya mendorong pengembangan MRT Jakarta melalui TOD dengan skema KPBU. Karena kita juga ingin nanti ada dampak ekonomi dari keberadaan MRT ini, untuk skema KPBU dengan pengembalian investasi user pay, pendapatan komersial TOD digunakan sebagai tambahan pengembalian investasi. Sementara skema KPBU dengan pengembalian investasi Availability Payment (AP), pendapatan tarif dan komersial dari TOD yang dikelola paying agent digunakan untuk membayar AP Badan Usaha,” jelas Menteri Bambang.(*)