Diskusi Dialektika Institute: Edward Said dan Orientalisme, Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek

  • Share

Dialektika Institute for Culture, Religion and Democracy kembali menyelenggarakan diskusi dwiminggu. Diskusi mingguan yang diselenggarakan pada hari Minggu (31/08/2021) ini bertemakan Edward Said dan Orientalisme, Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek.

Hadir sebagai pembicara utama, Awla Akbar Ilma, Kandidat Doktor Sastra Universitas Gadjah Mada, Abdul Aziz dari Dialektika Institute, dan Mheky Polanda, Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, sebagai moderator.

Dalam mengawali diskusi, Awla menjelaskan ada tiga tokoh besar yang mewarnai pendekatan Edward Said dalam menulis buku Orientalisme-nya. Ketiga tokoh tersebut ialah Michel Foucault, Gramsci dan Jacques Derrida.

“Dari Michel Foucault,  terutama bukunya yang terkenal Archeology of Knowledge dan The Order of Things, Said terinsipirasi untuk membongkar perselingkuhan pengetahuan dan kekuasaan dalam diskursus orientalisme,” jelas Awla.

“Dari Gramsci, Said terinspirasi teori hegemoni dan intellecual organic sedangkan dari Derrida, Said mendapat basis metodologi penelitiannya pada kesetaraan dan hirarki sosial. Semua ini merupakan matarantai pemikiran Edward Said dalam menulis orientalisme,” lanjut Awla.

Lebih jauh, Awla menjelaskan bahwa orientalisme Edward Said berangkat dari pembedaan antara The Orient, yaitu Timur dan the Occident, yaitu Barat. Timur yang dimaksud oleh Said di sini ialah kawasan Timur Tengah dan India.

Barat dan Timur, kata Awla, dihadirkan dalam studi Orientalisme dalam konstruk oposisi biner yang kontras dan berbeda. Perbedaan tersebut mencakup wilayah geografi dan nilai-nilai kebudayaan.

“Barat dan Timur merupakan pembedaan yang diproduksi dan direproduksi secara simultan sehingga membentuk kenyataan yang dianggap kebenaran mutlak,” jelas Awla.

Lebih jauh, Awla menyebutkan bahwa Said mendefinisikan orientalisme dalam tiga pengertian yang berbeda namun saling berkaitan; pertama, orientalisme merupakan satu cara berpikir yang membedakan antara Barat dan Timur;

Kedua, orientalisme sebagai disiplin akademik; ketiga, orientalisme sebagai institusi korporate yang menjembatani hubungan antara pengetahuan kolonial dan kekuasaan kolonial.

Dalam pengertian orientalisme sebagai suatu cara berpikir, Awla menjelaskan orientalisme menggunakan oposisi biner dalam membuat diskursus relasi Barat dan Timur.

“Orientalisme menjadikan Barat sebagai the Self, dewasa, beradab dan Timur sebagai the Other, anak-anak, barbar. Orientalisme menekankan bahwa Barat itu maskulin sedangkan Timur itu feminim. Maskulin dan feminine inilah imaginasi geografi Barat terhadap Timur,” jelas Awla.

Dalam pengertian orientalisme sebagai suatu disiplin akademik, Awla menguraikan bagaimana orientalisme membentuk satu disiplin akademik yang memiliki otoritas dan keahlian tentang Timur.

Ketika berekspedisi ke Mesir tahun 1798, Napoleon tidak hanya membawa tentara militer melainkan juga para sarjana dan peneliti.

Mesir diteliti dan dipetakan secara geografi, budaya, nilai-nilai, dari sini lahirlah disiplin keilmuan yang menjadikan Mesir sebagai objek kajian. Sampai di sini, muncullah kajian-kajian wilayah seperti Egypology dan Indianology yang berada di bawah payung Orientalisme.

Sedangkan dalam pengertian orientalisme sebagai institusi kolonial, Awla mengatakan bahwa ketika orientalisme menjadi institusi kolonial, berarti pengetahuan yang digali oleh institusi ini digunakan untuk kepentingan kolonial, terutama dalam menguasai Timur.

Paparan orientalisme kemudian dilanjutkan ulasan terkait paradigm dan pendekatan orientalisme dalam memahami Timur. Atas dasar ini, Abdul Aziz menjelaskan kerangka paradigmatik yang memunculkan beberapa pendekatan dan metode yang digunakan para orientalis dalam bergumul dengan teks-teks Timur (Baca: teks-teks Islam).

Aziz menguraikan bahwa dalam mengkaji teks-teks ketimuran, Orientalisme sebenarnya melandaskan cara berpikirnya pada paradigma Eropasentrisme atau West-centrism.

Paradigma ini, kata Aziz, melahirkan setidaknya tiga pendekatan yang saling menegasikan antara satu dengan yang lainnya namun tetap masih dalam bayang-bayang Eropasentrisme: pertama, pendekatan universalis-historis; kedua, pendekatan segmentalisme filologis; dan ketiga, pendekatan subjektivisme individualis.

Aziz mengakui bahwa tiga pendekatan orientalisme dalam bergumul dengan teks-teks keislaman ditimba inspirasinya dari buku at-Turats wal Hadathah (tradisi dan modernitas) yang ditulis oleh Muhammad Abid al-Jabiri, seorang filosof Maroko yang terkenal dengan tetralogi kritik nalar Arabnya.

Selanjutnya Aziz memerinci lebih jauh masing-masing pendekatan ini. Pendekatan pertama, yakni universalis-historis, merupakan pendekatan orientalis yang menekankan pada garis kontinuitas pemikiran Eropa dari waktu ke waktu dan bersifat menyeluruh serta mengabaikan diskontinuitasnya.

Misalnya, kalau bicara sejarah filsafat, seorang orientalis akan bicara dari Athena, lalu ke Roma dan selanjutnya ke seluruh Eropa.

“Sementara itu, soal bagaimana filsafat juga pernah berkembang selama empat abad lebih di wilayah Timur Tengah, terutama di era Islam, tidak pernah disinggung secara detail dan mungkin dianggap pembahasan periferal. Ini mengesankan bahwa filsafat hanya milik Yunani yang diwariskan kepada kebudayaan Eropa,” jelas pria yang akrab disapa Kang Aziz.

Aziz mencontohkan dua karya orientalis dengan pendekatan universalis historis ini, di antaranya, Histoire de La Philosophie karya Emile Bréhier dan History of Philosophy in Islam karya T.J. De Boer.

Pendekatan kedua, segmentalisme filologis, ialah pendekatan yang membagi suatu pemikiran tertentu ke dalam beberapa bagian lalu dilacak orisinilitas dan genealogi pemikirannya yang masih ada sentuhan Eropasentrisnya.

“Misalnya, ketika mengkaji pemikiran Imam al-Ghazali, Wensink mensegmentasikan pemikirannya ke dalam beberapa bagian lalu melakukan tracing terhadap genealoginya dan pada tahap selanjutnya ditemukanlah tiga aspek yang membentuk pemikiran al-Ghazali: Islam, Kristen dan Neoplatonisme,” jelas Kang Aziz.

Meski pendekatan ini berbeda dengan yang pertama, bahkan merupakan kritik terhadapnya, namun, paradigma yang menggerakkan pendekatan segmentalisme filologis tetap bermuara pada Eropasentrisme. Pendekatan seperti ini juga digunakan oleh Shlomo Pines dalam Studies in Islamic Atomism.

Dalam mengkaji teori atom yang dikemukakan Abu Bakar ar-Razy, Pines membagi pemikiran Atomnya ini ke dalam beberapa bagian lalu mencarikan asal usulnya dan ditemukanlah asal usul dari Yunani dan India.

Sedangkan pendekatan ketiga, subjektivisme individualis, ialah pendekatan yang digunakan orientalis untuk mengkaji pemikir-pemikir Timur secara individu terlepas dari konteks kesejarahannya.

Namun, meski pendekatan ini seolah sangat empatik terhadap tokoh yang dikaji, kata Kang Aziz, tetap saja seempati apa pun, seorang orientalis kira-kira ingin mencari yang hilang dari ke-eropa-annya dan dia temukan pada tokoh-tokoh Timur ini. Jadi intinya, orientalis yang menggunakan pendekatan ini tetap masih dalam bayang-bayang eropasentrisme. (*)

  • Share