Dusun Basun Sinar Surya, Keindahan Bangka yang Belum Terjamah

  • Share

Secara geografis, letaknya bereda di perlintasan tiga kabupaten: Bangka Barat, Bangka Induk, Bangka Selkatan. Banyak keistimewaan dan keindahan alami yang dimiliki. Salah satunya, air tawar yang sumbernya dari bebatuan.

Dusun Basun, berada di Desa Sinar Surya. Masuk Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. Bagi yang pernah ke tempat ini, sulit melupakan betapa alami dan indahnya pantai di sekitarnya.

Sayang, belum banyak yang mengetahui potensi menarik dusun ini. Padahal, selain pantai yang alami, dengan pasir putihnya yang indah, di kawasan dusun ini banyak ditemukan bebatuan unik berwarna coklat kemerahan. Semuanya banyak tersebar di sepanjang pantai dan laut lepas yang sangat dalam.

Bahri, BPD Sinar Surya mengatakan, Pantai Basunmerupakan aset desa yang hingga kini belum dikelola sedikitpun. “Semuanya masih terlihat alami. Letaknya dekat dengan laut yang dalam. Dan, memiliki jarak tempuh terdekat sebagai jalur antar provinsi.

Di tempat itu, masih belum terjamah oleh tangan manusia. Hanya ada akses jalan dan bekas abrasi air laut. “Uniknya, di Pantai Basun ini terdapat gua dan sumber air tawar di batu. Dan, itu merupakan aset kami ke depannya, sebagai pengembangan tempat pelabuhan, wisata dan pembangunan,” kata Bahri.

Selain pantai, Desa Surya juga memiliki kolong bekas galian timah. Saat ini, sumber airnya dimanfaatkan warga setempat untuk mandi, mencuci dan keperluan rumah tangga lainnya.

“Ada penelitian, dulunya menyebutkan bahwa sumber air kolong tersebut cukup baik, aman untuk dikonsumsi. Dan ini merupakan aset yang akan dikembangkan desa,” paparnya.

Selain itu, desa ini juga memiliki berbagai usaha yang sedang dirintis olah ibu-ibu PKK. Seperti pembuatan telur asin dengan berbagai rasa, bumbu, minuman alami berbahan dasar jahe merah, kue jajanan pasar dan lain sebagainya.

Bahkan, di Dusun Sungai Dua Desa Sinar Surya, juga memiliki kerajinan yang sudah dikenal masyarakat setempat, yaitu pembuatan piring hingga mangkok dari lidi.

“Ke depan, diharapkan peran serta masyarakat sangat penting. Apalagi pembangunan pelabuhan nasional yang membutuhkan sinergi dari masyarakat, terutama gotong royong dan keterlibatannya,” ujar Bahri.

Diakui, memang masih banyak kekurangan dan kebutuhan masyarakat untuk menjaga tempat itu. Seperti pemecah gelombang agar abrasi pantai tidak terus mengikis tanah di sekitar pantai.

Kemudian tambatan perahu untuk memudahkan nelayan. “Selama ini, mereka tidak bisa menggunakan ukuran melebihi enam meter karena terhalang air dan batu,” katanya.(*)

  • Share