Kasus-kasus kecelakaan pada kendaraan bus, masih terjadi. Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Perhubungan melakukan kajian terkait hal ini bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan di kantor KNKT.

Kunjungan Sahli LMK, KNKT, YLKI ke BPLJSKB Bekasi

Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Perhubungan (Sahli LMK) Cris Kuntadi bersama dengan Ketua KNKT, Soerjanto kembali mengkaji persoalan kasus-kasus kecelakaan pada bus di kantor Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) di Bekasi, Jumat (08/02/2019).

Kajian ini sendiri, merupakan kelanjutan dari pembahasan yang telah dilakukan setelah rapat pembahasan Program Keselamatan Perhubungan bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan di kantor KNKT pada Kamis (31/01/2019).

Pada pertemuan lanjutan ini, KNKT kembali membahas tentang crashworthiness pada bus, serta penyebab apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan.

“Saya sengaja mengundang YLKI, karena ke depan kita akan membangun kerjasama antara pemerintah dengan YLKI agar dapat menyentuh konsumen. Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keselamatan,” kata Ketua KNKT.

Ketua KNKT Soerjanto juga mengatakan bahwa penting saat ini mengkaji, bagaimana agar keselamatan transportasi berjalan lebih baik ke depannya. “Uji guling sangat penting, kita harapkan uji guling bus ini menjadi salah satu faktor keselamatan, khususnya minibus. Sehingga, keselamatan bisa ditingkatkan,” katanya.

Ketua KNKT sangat berharap BPLJSKB Bekasi dapat menjadi ujung tombak terkait keselamatan jalan. “Saya sangat berharap uji tipe di Bekasi ini dapat menjadi ujung tombak masalah keselamatan,” ujarnya.

Menurutnya, BPLJSKB hanya perlu fokus untuk memprioritaskan pengujian keselamatan kendaraan yang tujuannya memang untuk mengurangi fatalitas kecelakaan.

Perwakilan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sulasih juga berharap agar BPLJSKB dapat dioptimalkan. “Kami sangat mendukung bagaimana lembaga pengujian ini bisa dioptimalkan kembali. Terutama dari sisi pengawasan di lapangan,” ucapnya.

Pada kesempatan paparan, Sahli LMK, Cris Kuntadi mengungkapkan bahwa dalam kajian ini, ada dua poin penting yang harus segera dirumuskan untuk ditindaklanjuti. “Pertama, bagaimana kendaraan keluar dari BPLJSKB ini menjadi kendaraan yang berkeselamatan. Dan yang kedua, bagaimana kita menjaga, kalaupun terjadi kecelakaan tetapi tingkat fatalitasnya rendah,” jelasnya.

“Kita tahu, banyak sekali yang harus kita lakukan. Nah, ini tujuannya untuk apa? Untuk keselamatan transportasi,” tegas Cris Kuntadi.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Direktorat Sarana Transportasi Darat, Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan dan akademisi dari Institut Teknologi Bandung.

Setelah pertemuan, Sahli LMK, KNKT, YLKI dan akademisi dari ITB melakukan kunjungan ke laboratorium emisi yang ada di BPLJSKB.(*)