Kenapa KLB Partai Demokrat di Deli Serdang Bisa Terjadi?

  • Share

Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat benar-benar terjadi pada Jumat (05/03/2021). Bertempat di The Hill Hotel and Resort, Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, forum KLB memilih Moeldoko sebagai ketua umum periode 2021-2026.

Selain memilih Moeldoko sebagai Ketua Umum, KLB Partai Demokrat juga memilih Marzuki Alie sebagai Ketua Dewan Pembina.

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dalam banyak kesempatan menuding sosok Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko ada dibalik skenario KLB ini.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, dalam konferensi pers pada Jumat (05/03/2021) malam, SBY menyampaikan penyesalan pernah mengangkat Moeldoko sebagai panglima TNI pada 2013.

Faktor Moeldoko, atau eksternal partai dianggap menjadi biang kekisruhan di tubuh Partai Demokrat. Opini ini terbentuk setelah beredarnya foto pertemuan Moeldoko dengan beberapa kader partai. Opini ini menguat setelah Moeldoko terpilih menjadi ketua umum.

Apakah benar faktor eksternal menjadi biang kekisruhan partai?

Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) Firman Noor dalam keterangan tertulis menyampaikan kisruh yang terjadi di tubuh Partai Demokrat sebenarnya tidak hanya didominasi faktor eksternal.

Ia melihat ada kompleksitas dalam partai ini, yang juga memperlihatkan sisi internal sebagai akar kekisruhan.

Bahkan ada sementara kalangan yang meyakini bahwa faktor eksternal hanyalah dampak, yang memainkan peran pinggiran saja.

Firman menyebutkan akar-akar persoalan di balik kisruh Partai Demokrat. Pertama adalah kepemimpinan yang belum benar-benar dapat menjadi alat pemersatu seluruh kader.

“Dalam momen ini dapat terlihat bahwa seorang SBY tidak juga mampu menjadi alat pemersatu yang benar-benar solid,” kata Firman Noor.

SBY di satu sisi adalah alasan utama dari berdirinya Partai Demokrat. Namun di sisi lain, dalam perjalannya pada kepemimpinan SBY, Partai Demokrat memiliki faksi-faksi, yang kerap saling bertikai.

Kedua, masih lemahnya ikatan ideologi dalam partai. Menurut Firman, dalam konteks Partai Demokrat, faktor ketokohan dan kepentingan praktis dalam berkontestasi dalam kehidupan riil politik lebih dominan.

Ketiga, adalah faktor eksternal. Firman menyebut dalam banyak kasus di Indonesia, faktor eksternal ini tidak dapat diabaikan.

“Pertemuan senior partai dengan salah seorang elite pemerintahan terbukti kemudian memicu dan memanaskan kisruh internal partai ini,” kata Firman.

Faktor eksternal, lanjut Firman, dalam sejarahnya dapat menjadi kekuatan tersendiri untuk mempertahankan atau mengambil alih kekuasaan sebuah partai. Fungsinya adalah sebagai sebuah katalisator yang memperuncing faksionalisasi.

Faktor terakhir menurut Firman adalah kurang berjalannya komunikasi terutama antar elite atau senior. Hal ini menyebabkan banyak dugaan atau prasangka negatif yang tidak terjembatani.

“Dalam kasus Partai Demokrat, manuver elite memainkan peran utama. Mereka yang disoroti dan melakukan “buka-bukaan” di depan publik adalah para tokoh partai yang posisinya bukan sembarangan, ada pendiri dan tokoh-tokoh yang telah berkiprah baik dalam partai atau ketika menjadi pejabat publik,” jelas Firman.

Dikatakan Firman, seandainya komunikasi entar elite ini dapat terpelihara dengan baik, tentu hal-hal tersebut dapat dicegah sejak dini, atau setidaknya dapat mencegah sebuah akselerasi dan eskalasi konflik. (*)

  • Share