Mak Saini, Penjual Gorengan di Kampus Unmer Mendadak Umroh

  • Share

Namanya Mak Saini. Panggilannya Emak. Memegang SKOT (Surat Keterangan Orang Terlantar) cukup menggambarkan kehidupan Mak Saini selama ini. Perempuan kelahiran 30 Juni 1940 itu akan berangkat umroh pada 26 Desember mendatang dari pendana misterius yang tak dikenal.

Selama 33 tahun mak Saini tinggal di halaman belakang kampus Universitas Merdeka Surabaya (Unmer). Di awal tahun 80-an mak Saini menjual gorengan di kantin Unmer, karena tidak memiliki rumah, ia tinggal di situ bersama suaminya yang telah tiada pada 2002 silam. Sejak ditinggal suami, mak Saini hidup sebatang kara.

“Meskipun tinggal seorang diri, semua mahasiswa sini saya anggap anak sendiri. Alhamdulillah ada yang ngramut saya dan jadi anak angkat, nemenin emak di sini namanya Rachmat,” ujar perempuan kelahiran Surakarta tersebut.

“Sempat hendak pindah karena pihak kampus mematok harga sewa kantin, tapi melihat kondisi emak akhirnya tetap mendapat tempat di dalam kampus dengan suka rela sampai sekarang,” terang Rachmat, mahasiswa yang telah menjadi anak angkat Mak Saini sejak 2003.” Anak mahasiswa Unmer sini sudah dianggap kayak anaknya sendiri.” Imbuh pria 34 tahun tersebut.

Siapa sangka, 10 September lalu ada kabar mengejutkan melalui telepon seluler ditujukan kepada Rachmat yang mengatakan akan memberangkatkan mak Saini umroh.” Sebelumnya ada orang travel yang sms untuk menyiapkan segala data untuk mengurus paspor dan lainnya yang menyatakan sebagai kelengkapan berangkat umroh emak, tapi tidak saya tindak lanjuti. Namun selang beberapa waktu dosen kampus sms saya bahwa mendapat sms dari travel untuk segera mengurus apa yang telah dikabarkan pada saya sebelumnya.” Ujar Rachmat.

Mau tak mau dan setengah tak percaya, Rachmat mengajak mak Saini mengurus segala surat – surat. Umroh misterius akan dilaksanakan pada 26 Desember mendatang, mulai dari KK, E – KTP, dan paspor sampai vaksin meningitis di Perak.” Travelnya dari Toyyibah Wisata, dan mereka diwejangi agar tidak menyebut nama yang mendaftarkan umroh emak.” Semua perlengkapan mak Saini tersebut tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.” Waktu vaksin meningitis di Perak, emak dikasih uang 200 ribu sama orang yang gak dikenal, katanya buat beli kaos kaki sama masker.” Tambahnya.

Mak Saini yang mengaku tidak pernah mengeluh dalam kehidupan ini merasa senang dan tidak percaya.” Saya sangat senang dan tidak percaya. Selama hidup ndak pernah memikirkan bisa berangkat umroh ke tanah suci. Saya ucapkan terima kasih, syukur Alhamdulillah, semoga sak anak turune mendapat berkah, diparingi rejeki berlimpah,” Urainya lirih. Saat ini mak Saini hanya bisa mendoakan hamba Allah yang telah memberangkatnya ke tanah suci bulan depan tersebut.

  • Share