Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair menuturkan, dengan makmurnya desa, masyarakat seharusnya tidak lagi terpecah belah. Apalagi umat Islam.

Kemakmuran desa menurut Mbah Moen atas dasar adanya bantuan keuangan untuk desa di seluruh Indonesia atau yang disebut dana desa, dimana membuat desa-desa, di Jawa Tengah khususnya semakin makmur. Apalagi, tiap desa rata-rata menerima besaran dana mencapai Rp1 miliar.

“Umat Islam itu sejak zaman masa sahabat Nabi Muhammad, tidak rukun. Saat ini juga sama, tukaran dewe karo kancane. Sesama Islam,” tuturnya saat memberikan tausiah dalam Peringatan Rojabiyah dan Haul ke-53 KH Achmad Bin Syuaib, Haul ke-32 KH Abdul Khamid, Haul ke-20 KH Abdul Jali, Haul ke-18 Abdurrochim dan Dzuriyyah KH Achmad di halaman Ponpes Ma’hadul Ulum Asy Syar’iyyah Karangmangu, Sarang Rembang, Kamis (28/03/2019) petang.
.
Didampingi putranya Taj Yasin Maimoen, yang juga selaku Wakil Gubernur Jateng, kepada ribuan santri dan alumni, Mbah Moen juga mengisahkan sejarah Islam yang masuk Indonesia. Ceritanya berbeda sama sekali dengan sejarah arus utama yang menyebutkan Islam masuk ke Nusantara berkat dakwah para pedagang dari Gujarat, India.
.
“Saya mendapat cerita dari guru saya Syeikh Yasin al-Fadani, kedatangan Islam di Indonesia mula-mula pada waktu perang Shiffin, yakni antara kelompok Muawiyah dan kelompok Sayyidina Ali,” imbuhnya.
.
Ia menyebutkan, negara yang penduduknya mayoritas Islam ini mendapat pengaruh Islam dari zaman masa keemasan.
.
Kalau dalam Alquran disebut As-Sabiqunal al-Awwalun. Yaitu seratus tahun pertama sebagai zaman nabi-sahabat, seratus tahun kedua sebagai zaman tabi’in, dan seratus tahun ketiga zaman tabi’in tabiat.
.
Pada perang Shiffin, lanjut Mbah Moen, itu menjadi kemenangan pada kelompok Muawwiyah sehingga kelompok Ali terpecah belah. Kelompok Ali ini lantas terpecah menjadi empat kelompok, ada yang disebut Khawarij, adanya kelompok Ali yang fanatik berlebihan, ada yang netral dan ada pula kelompok kecil yang disebut anak-anak perahu.
.
“Anak-anak perahu ini bertekad untuk meninggalkan negeri Arab melalui teluk Persia. Kemudian dengan naik perahu pasrah kepada Allah di mana perahu itu akan sampai dan di mana akan mendarat. Pertama kali mendarat, perahu mereka sampai di Medan,” ungkapnya.
.
Oleh karena itu, Mbah Moen menyebutkan, di Medan walaupun Islamnya tidak besar tetapi ada sebuah istana yang dikagumi yakni bernama Istana Maimun.
.
“Saya sendiri bertanya, kenapa di sana ada istana yang bernama Istana Maimun? Di Medan itu kalau kita lihat, antara Medan dan Padang Panjang ada kuburan-kuburan yang tidak diketahui. Itu kata guru saya Syeikh Yasin (yang) merupakan jejak kedatangan dari Bangsa Arab masuk ke Indonesia pertama kali sebagai penyebar Islam. Walaupun mereka tidak sengaja untuk menyebarkan, tujuan mereka untuk mengungsikan diri,” jelasnya.
.
Diceritakan pula, bahwa Islamnya orang Sarang berasal dari dakwahnya orang Belitung dan Bangka, bukan oleh para wali dari Demak.
.
Sejarahnya, saat itu ketika Kubilai Khan menguasai Negeri China dan mengirim pasukan ekspedisi ke Jawa, prajuritnya dipotong telinganya oleh Raja Singosari Kertanegara.
.
Kemudian ketika Pasukan Tartar dikirim untuk menyerang Raja Jawa itu, Singosari telah tiada dan digantikan oleh Kerajaan Majapahit. Pasukan dari China itu dikalahkan oleh Majapahit sehingga banyak yang berlarian ke berbagai daerah dan ada yang kembali ke negeri asal.
.
Namun, ungkap Mbah Moen, sebagian pasukan Kubilai Khan itu ada yang muslim. Dan prajurit muslim itu setelah lari dari Majapahit lantas menetap di Bangka dan Belitung. Lalu mereka berubah menjadi petani atau guru. Di antaranya ada yang berdakwah hingga ke Sarang. Itu terjadi sebelum era Demak.
.
“Cerita ini saya dengar dari abah saya. Abah saya dari kakek saya. Kakek saya dari buyut saya. Buyut saya itu dulu mengajinya di Belitung, napak tilas ke pendakwah asal Belitung. Makanya di Kecamatan Sarang ada Desa Belitung,” pungkasnya.