Di Yogyakarta, pergantian tahun baru Hijriah dirayakan dengan tradisi Mubeng Beteng atau berjalan mengelilingi benteng Keraton Kesultanan Ngayogyakarta

Tradisi Mubeng Beteng ini dilaksanakan setiap malam 1 Muharram atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa, diikuti oleh Abdi Dalem Keraton dan warga.

Menurut Ki Ashad Kusuma Djaya, Budayawan Yogyakarta, sebenarnya ada dua tradisi Mubeng Beteng di Yogyakarta. Pertama, Mubeng Beteng malam 1 Suro, yaitu dilaksanakan menyambut tahun baru.

Yang kedua, Mubeng Beteng untuk mengarak Kyai Tunggul Wulung, bendera pusaka Keraton Yogyakarta yang bertuliskan lafal syahadat, Surah al-Kuatsar, Asma ul-Husna dan ornamen pedang Zulfikar Ali bin Abu Thalib.

“Berbeda dengan Mubeng Beteng malam satu suro yang dilakukan secara rutin, Mubeng Beteng mengarak Kyai Tunggul Wulung hanya dilakukan jika ada pageblug atau suatu wabah penyakit yang menimpa banyak penduduk di wilayah Kasultanan Ngayogyakarta,” kata Ki Ashad.

Dikutip dari berbagai sumber, tradisi Mubeng Beteng malam 1 Suro merupakan napak tilas dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Dalam perjalanan mengelilingi benteng, warga berjalan tanpa alas kaki dan dilarang berbicara (tapa bisu). Hal ini maksudkan untuk menghayati proses hijrah Nabi yang penuh penderitaan.

Selain itu, tapa bisu juga dimaksudkan sebagai bentuk muhasabah atau introspeksi diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui dan untuk memperbaiki kehidupan di masa yang akan datang

Sepintas, perjalanan mengelilingi benteng ini mirip dengan prosesi Thawaf yang dilakukan jemaah haji di Makkah, yaitu berputar berlawanan dengan arah jarum jam.

Ki Ashad menjelaskan prosesi Mubeng Beteng dilaksanakan pada saat pergantian hari, yaitu saat Maghrib.

Saat itu, beberapa Abdi Dalem sudah berada di Masjid Kagungan Dalem untuk menjalankan shalat dan memanjatkan doa hingga waktu shalat isya untuk memohon agar kegiatan dapat berjalan lancar.

Sedangkan yang lain menyiapkan uba rampe berbagai hal yang akan digunakan untuk prosesi selanjutnya.

“Selesai isya sekitar pukul 20.00 WIB acara dilakukan di Bangsal Pancaniti dengan mendengarkan uraian bacaan kitab suci al-Qur’an dalam wujud tembang macapat, yang sebelumnya dimulai dengan membaca tahlil. Hingga tengah malam baru kemudian acara mubeng beteng menyambut tahun baru Jawa / hijriah dilakukan,” jelas Ki Ashad.

Menurut Ki Ashad, dalam perspektif kebudayaan, tradisi Mubeng Beteng merupakan perlawanan terhadap kehidupan hedonis manusia modern dan kritik bagi mereka yang merayakan tahun baru dengan hura-hura.

“Bahkan bisa dikatakan hal itu adalah perlawanan terhadap kesombongan modernitas,” kata Ki Ashad.

Untuk itu, tradisi Mubeng Beteng ini bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain dalam merayakan tahun baru dengan penuh makna dan tanpa hura-hura. (*)