Moderasi beragama di Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini telah berjalan dengan baik. Semua pihak yang berkepentingan, yakni tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh kepemudaan mengambil perannya dengan baik untuk mewujudkan NTB yang aman dan damai.

Hal tersebut disampaikan oleh H. Muhammad Amin M.Pd, Pembina Penyuluh Agama Islam NTB, yang hadir sebagai narasumber dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Dialektika (LKD) dengan tema Moderasi Beragama: Jalan Tengah Menuju Kebhinekaan, Rabu (13/05/2020) malam.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Muhammad Khutub tersebut, hadir juga sebagai narasumber adalah Ahmad Fauzan, Wakil Rektor I Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) NTB.

Muhammad Amin menyampaikan bahwa moderasi beragama merupakan program dari Kementerian Agama yang tercantum dalam visi renstra 2020-2024, yaitu. . .”Masyarakat Indonesia yang taat beragama, moderat, cerdas dan unggul”.

“Visi renstra itu pada tahun-tahun sebelumnya tidak ditemukan kata moderat,” kata Amin.

Visi renstra Kemenag tersebut coba dilaksanakan oleh Kementerian Agama Kantor Wilayah NTB. Yaitu dengan membentuk masyarakat yang taat beragama di satu sisi dan juga toleran di sisi yang lain.

“Seperti kata Menteri Agama bahwa ajaran agama itu harus dipegang kuat-kuat tetapi disamping itu harus ada toleransi,” kata Amin.

Amin menerangkan bahwa untuk membentuk masyarakat yang moderat, Kemenag Kanwil NTB aktif melakukan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat, yaitu para ASN di Kemenag Kanwil NTB, pemuda, penyuluh agama, tenaga pendidik, tokoh agama, penghulu, dan petugas dan jamaah haji.

Menurut Muhammad Amin, moderasi beragama sangat penting, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Moderasi sebagai sikap hidup moderat, di tengah-tengah, adil dalam beragama akan terwujud dengan kedalaman ilmu pengetahuan, kemampuan menahan emosi, dan kehati-hatian.

“terangkum dalam kalimat yang sederhana, berilmu, berbudi, dan berhati-hati,” tegas Amin.

Di NTB sendiri, Amin menjelaskan moderasi beragama berjalan dengan baik. Kerjasama antara FKUB dengan tokoh-tokoh agama berjalan dengan baik.

“Jika ada hal-hal yang tidak baik, segera diselesaikan oleh tokoh-tokoh lintas agama tadi. Sehingga masalah tersebut tidak menjadi panjang,” tutur Muhammad Amin.

Senada dengan Muhammad Amin, Ahmad Fauzan menyampaikan bahwa moderasi beragama di NTB berjalan dengan baik.

Hal tersebut, menurut Fauzan, tidak berjalan secara instan, tetapi merupakan hasil dari perjalanan yang panjang.

“Di NTB sebenarnya ada juga kelompok fundamentalis. Jadi sikap keberagamaan masyarakat NTB telah menemukan jalannya,” kata Fauzan

Sikap moderat masyarakat NTB,  menurut Fauzan tidak lepas dari peran organisasi kemasyarakatan di NTB, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Nahdlatul Wathan (NW).

Selain itu, Fauzan menambahkan, dalam tradisi beragama masyarakat NTB peran penting juga dimainkan oleh pemimpin informal, yakni Tuan Guru.

“Pemimpin informal ini penting sebagai sentral informasi kepada masyarakat. Kehidupan beragama masyarakat NTB muncul mengikuti wacana yang berkembang di sekitarnya,” jelas Fauzan.