Mulai Bulan Depan Kemenag Juga Berlakukan Pengambilan Sidik Jari kepada Pendaftar Haji Khusus

  • Share

Kementerian Agama mulai akan memberlakukan pengambilan sidik jari bagi para calon jamaah haji khusus. Sebelumnya, pengambilan sidik jari dan foto juga akan diberlakukan untuk haji reguler.

Direncanakan mulai April mendatang, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah juga akan memberlakukan sidik jari dalam proses pendaftaran haji khusus.

“Pengambilan sidik jari bagi jemaah haji khusus ini tidak terlepas dari pemberlakuan pendaftaran sistem baru,” ujar Kasubdit Pendaftaran Haji Noer Alya Fitra (Nafit) di Jakarta, Kamis (16/03/2017).

Baca Juga;

Kemenag: Biaya Minimal Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus 2017 Sebesar 8.000 Dollar AS

Kuota Haji 2017 Berjumlah 221 Ribu, Ini Rincian Menurut Kemenag

Alhamdulillah, Pemerintah Arab Saudi Tambah Kuota Jamaah Haji Indonesia 2017

Nafit menjelaskan bahwa kebijakan ini menjadi salah satu terobosan penyempurnaan sistem pendaftaran.

Lebih lanjut disampaikan, sidik jari calon jemaah haji diperlukan seiring adanya aturan baru tentang mendaftar 10 tahun setelah keberangkatan terakhir. Dengan begitu, jemaah yang terdeteksi sudah pernah haji, tidak dapat mendaftar kembali kecuali setelah sepuluh tahun dari keberangkatan hajinya yang terakhir.

“Sidik jari juga menjadi upaya preventif terhadap penggunaan identitas jemaah oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab,” urainya.

Dengan proses pengambilan sidik jari ini, lanjut Nafit, maka calon jemaah harus datang langsung saat akan mendaftar, alias tidak bisa diwakilkan. Proses pendaftaran juga langsung dilakukan jemaah sehingga mereka bisa mengetahui berapa biayanya dan terdaftar di Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) apa.

Dikatakan Nafit, sistem yang lama memperbolehkan jemaah untuk mewakilkan pendaftaran. Akibatnya, ada jemaah yang tidak mendapatkan informasi tentang kapan dia didaftarkan, terdaftar di PIHK apa, serta berapa BPIH yang dibayarkan.

“Jika diwakilkan, nasib jemaah tergantung dari yang mewakili. Jika amanah alhamdulillah, tapi jika nakal, bisa jadi jemaah tidak pernah terdaftar haji dan uang yang disetorkan menjadi tidak jelas kemana larinya,” terang Nafit.

“Dengan sistem pendaftaran baru, jemaah harus memiliki rekening tabungan atas nama sendiri, menyetor sendiri, dan mendaftar langsung ke Kanwil Kemenag atau Kankemenag yang ditunjuk oleh Kanwil,” tambahnya.

Nafit berharap, kebijakan baru ini akan memberikan kepastian kepada jemaah terkait status pendaftaran, dana setoran awal aman di rekening Menteri Agama, serta identitas jemaah haji tersimpan dengan lengkap.

[***]

  • Share