Kliksaja.co – Tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Hambalang, Andi Zulkarnain Mallarangeng atau Choel Mallarangeng tidak memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan memeriksanya.

Adik kandung Menpora era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Andi Mallarangeng ini mengaku sakit sehingga meminta dijadwalkan ulang pemeriksaannya sebagai tersangka.

“Tadi penasihat hukum yang bersangkutan konfirmasi kepada penyidik bahwa AZM (Andi Zulkarnain Mallarangeng) sedang sakit sehingga tidak dapat memenuhi panggilan pada hari ini. Dan meminta untuk dijadwalkan ulang,” ujar Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha di kantornya, Jakarta, Kamis (24/11/2016).

Setelah mendapat informasi dari pihak Choel tersebut, penyidik kemudian menyepakati akan memeriksa yang bersangkutan pada pekan depan.

“Tapi yang pasti tadi antara penasihat hukum dan penyidik sepakat bahwa pemeriksaan akan dijadwalkan ulang pada pekan depan,” kata Priharsa.

Ini merupakan pemeriksaan kedua Choel sebagai tersangka setelah ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya ia pernah diperiksa pada  Januari lalu.

Menurut informasi yang beredar, penyidik KPK sudah merencanakan langsung melakukan penahanan terhadap Choel usai diperiksa sebagai tersangka kali ini.

Penahanan ini akan dilakukan penyidik lantaran berkas perkara Choel yang sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak 16 Desember tahun lalu sudah hampir rampung.

Choel yang diduga telah menerima uang sebesar Rp 4 miliar pada proyek Hambalang yang saat ini mangkrak pembangunannya.

Sebelumnya, dalam surat dakwaan KPK terhadap Andi Mallarangeng, Choel disebut sebagai perantara pemberian uang US$ 550 ribu kepada Andi dari mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen Kemenpora, Deddy Kusdinar.

Uang itu dalam dakwaan diberikan secara bertahap yaitu Rp 2 miliar diterima Choel Mallarangeng di kantornya dari PT Global Daya Manunggal, Rp 1,5 miliar diterima Choel dari PT Global Daya Manunggal melalui Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam dan Rp 500 juta diterima Choel dari PT Global Daya Manunggal melalui Mohammad Fakhruddin.

PT Global Daya Manunggal adalah salah satu perusahaan sub kontraktor yang mengerjakan proyek di Hambalang, Sedangkan M Fakhruddin merupakan staf khusus Andi Mallarangeng.

Uang tersebut disebut-sebut digunakan untuk keperluan operasional Menpora, pembayaran tunjangan Hari Raya untuk protokoler Menpora, pembantu dan pengawal di rumah dinas menpora dan rumah kediaman Andi serta akomodasi dan pembelian tiket pertandingan sepak bola piala AFF di Senayan dan Malaysia serta pertandingan tim Manchester United untuk rombongan Menpora serta anggota Komisi X DPR.

Atas perbuatan itu, Choel disangkakan melanggar Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana diubah UU Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.