Sikap moderasi dalam kehidupan beragama di Indonesia bisa tumbuh subur melalui jalan dimana masyarakat Indonesia mau belajar dan memahami tentang hidup penuh keragaman, hidup ditengah khazanah perbedaan.

Sementara kergaman bisa tumbuh dengan mengedukasi diri kita, menyadari keberagaman di lingkungan sekitar kita. Melalui jalan itu diyakini sikap dan kesadaran perilaku kehidupan yang penuh keragaman dan kebahagiaan dapat diwujudkan.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Al Makin Ph.D dalam diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Dialektika (LKD) dengan tema “Moderasi Beragama dan Keberagaman Kita”, Selasa (12/05/2020) yang di moderatori oleh Muhhamd Khutub, Direktur Lembaga Kajian Dialektika.

Kejayaan peradaban sebuah bangsa tidak lepas dari keberhasilan bangsa tersebut dalam menjalankan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman. Keberagaman adalah kunci kemajuan peradaban sebuah bangsa.

Al Makin, menyampaikan bahwa pentingnya keberagaman dalam kaitannya pembentukan peradaban sudah ada sejak ribuan tahun silam dalam khazanah klasik Islam. Misalnya dalam konsep Madinah Al Fadhilah Al-Farabi atau dalam karya Muqaddimah Ibnu Khaldun.

Al Farabi, menurut Al Makin, sering menyebut sa’adah dalam konsep Madinah Al Fadhilah atau negara utama. Dalam konsep tersebut, pemimpin dan rakyatnya mengejar kebahagiaan.

“Kebahagiaan itu bisa dicapai kalau kehidupan berjalan dengan harmonis,” kutip Al Makin.

Sedangkan dalam Mukadimah, Ibnu Khaldun, ada istilah Umran atau peradaban. Masyarakat itu berjaya sebagaimana individu, yaitu bayi, remaja, tua, lalu meninggal. Begitu juga dengan peradaban, lahir, berjaya, pelan-pelan menua dan kemudian meninggal.

“Al Farabi dan Ibnu Khaldun telah memberi peringatan buat kita pentingnya harmoni dan pentingnya menjaga keragaman,” ungkap Al Makin.

Dalam khazanah Nusantara, Al Makin, menyebut kejayaan Majapahit kuncinya terletak pada keragaman dan keselarasan. Pada masa Majapahit ada dua tradisi utama dari India, yaitu Hindu dan Budha.

Dari Majapahit inilah konsep Bhineka Tunggal Ika diadopsi dari Kitab Sutasoma, yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Al Makin menyebutkan bahwa Indonesia sejak awal sejarah berdirinya sangat menghargai keragaman. Hal itu terlihat dari sikap akomodatif para founding fathers, mulai dari Soekarno, Hatta, dan yang lain

Keragaman Indonesia terlihat dari Bahasa Indonesia, yang terdiri dari berbagai macam bahasa, yaitu bahasa daerah dan bahasa asing.

Harmoni akan keragaman di Nusantara juga ditunjukkan oleh proses sejarah masuknya Islam. Berbeda dengan di wilayah lain, di Nusantara tidak ada penaklukkan atau futuh.

Ada banyak teori bagaimana Islam itu datang, diantaranya melalui perdagangan yaitu dari Gujarat. Ada teori asimilasi, misalnya dengan China. Ada teori Islam di bawa melalui Tasawuf, yaitu melalui gerakan sufi, dan ada juga Islam itu datang dan diperkuat dengan politik, seperti di Aceh, Demak, dan Tidore. Menurut Al Makin semua teori itu menghargai keragaman.

“Artinya Islam itu dibawa ke Indonesia melalui adaptasi dengan merangkul bukan memukul,” tegas Al Makin.

Ia menyebutkan contoh adaptasi tersebut melalui arsitektur Masjid di Kudus peninggalan Sunan Kudus yang mirip dengan tempat suci di Bali. Sunan Kudus, kata Al Makin, tidak merubah arsitektur masjid bernuansa Jawa, Hindu dan Budha.

Menurut Al Makin, Orang berperilaku ekstrim atau tidak mau menerima unsur lain karena tidak menyadari sejarah.

Ia menekankan bahwa menanamkan moderasi, yang pertama adalah mengenalkan keragaman lewat sejarah.

“Kalau kita menyadari sejarah, kita runut pelan-pelan seperti tadi, maka kita akan menjadi moderat, sikap kita akan di tengah-tengah. Oh ternyata Islam seribu tahun lalu tidak menolak eksistensi yang lain,” kata Al Makin.

Al Makin menambhakan, untuk menumbuhkan kesadaran keberagaman kita diperlukan pembiasaan diri, pengalaman berupa interaksi dengan orang yang berbeda, entah suku atau agama.

Ia mencontohkan hal tersebut sebagaimana dipraktekkan kehidupan masyarakat di Singapura dan Malaysia. Di dua negara tersebut telah diterapkan sistem kuota.

“Misalnya di Singapura, apartemen itu harus dihuni sekian persen sekian persen etnis China, sekian persen etnis Melayu, sekian persen etnis Bule, sekian persen etnis India, sekian persen etnis yang lain,” jelas Al Makin.

“Dengan begitu, pengalaman hidup bergaul dengan budaya dan tradisi yang berbeda itu terbentuk,” tambah Al Makin.