PROFESOR HAMKA HAQ: KITA RINDU PEMIMPIN SEPERTI UMAR IBN ABD AL-ʿAZĪZ

  • Share

KLIKSAJA.CO – Umar II atau Umar ibn Abd al-ʿAzīz, (lahir 682/683, Medina, Arabia [sekarang di Arab Saudi]—meninggal pada Februari 720, dekat Aleppo, Syria), khalifah yang saleh dan dihormati yang berusaha untuk menjaga integritas Kekhalifahan Muslim Umayyah (661–750) dengan menekankan pada agama dan kembali ke prinsip-prinsip asli dari iman Islam. (https://www.britannica.com/biography/Umar-II).

Umar ibn Abd al-ʿAzīz adalah salah satu khalifah Islam yang dinilai oleh banyak ahli sejarah memiliki legasi yang monumental dalam sejarah kepemimpinan Islam. Umar dikenal karena dapat menjalankan system pemerintahan yang baik, terutama pada tiga bidang: pentingnya stabilitas dan rekonsiliasi secara internal umat Islam; pembangunan untuk keadilan dan kesejahteraan; dan penegakan hukum secara adil, kata Prof. Dr. Hamka Haq di Webinar via Zoom Dialektika pada Kamis sore, 7 April 2022.

Menurut Profesor Hamka, Umar adalah pemimpin yang memulai karirnya dari bawah, mulai dipercaya sebagai kepala distrik, kemudian dipilih menjadi Gubernur Madinah, dan sebelum dipilih menjadi Khalifah, ia terlebih dahulu didaulat menjadi penasihat atau staf khusus Khalifah Sulaiman, yang digantikan. Selama menjadi Gubernur Madinah, Umar berhasil merenovasi Masjid Nabawi dan membentuk badan penasihat Gubernur yang diduduki oleh 10 ulama, tugasnya adalah mengawasi dan memberikan nasihat kepada dirinya dan seluruh pemimpin kabupaten/kota di dalam wilayah kekuasaannya. Dia adalah pemimpin yang tidak gila jabatan, dia memilih hidup sederhana (zahid). Dia menolak ketika akan diangkat sebagai putra mahkota. Setelah Umar dilantik sebagai Khalifah, dia menolak ketika diberikan fasilitas mewah seperti kuda yang baik, sebagai kendaraan ketika itu, dan tidak tinggal di dalam Istana seperti pendahulunya. Dia memilih menjual kuda itu dan duitnya dimasukkan ke kas negara, Baitul Maal, dan ia memilih tinggal di rumahnya yang sederhana. Satu kisah lain menyebutkan, ketika anaknya tiba malam ke Istana untuk berkonsultasi masalah pribadi, dia pun mematikan lampu karena itu dinilai bukan urusan negara, urai Hamka Haq.

Suatu hari Umar telat ikut shalat jamaah, ketika ditanya oleh sahabatnya, “kenapa terlambat?” Dia menjawab, “karena saya harus menunggu baju saya hingga kering.” Itu artinya, dia hanya memiliki beberapa lembar baju. Pada kisah lain, dikisahkan Khalifah itu blusukan, menemukan, dan berdialog dengan seorang ibu miskin yang memasak batu di samping anaknya yang menangis, dia langsung balik badan pulang ambil sekarung gandum di Gudang Istana, dipanggul sendiri, dibawakan ke ibu tua yang miskin itu, tambah Hamka Haq.

Selain melakukan reformasi birokrasi, Umar II juga melibatkan keluarga Ali bin Abi Thalib dan jebolan Khawarij ke dalam pemerintahannya. Itu adalah semacam rekonsiliasi dengan keluarga besar Nabi Muhammad Saw, termasuk menambahkan nama Ali bin Abi Thalib ke dalam teks khutbah di setiap hari Jumat. Ia juga lebih memilih mengirim mubalig-mubalig ke daerah-daerah taklukannya untuk mendakwahkan Islam rahmatan lil alamin, yang toleran dan inklusif, dan tidak melanjutkan program ekspansif dengan mengirim tentara, seperti pendahulunya, dan ia bahkan memberi ruang bagi komunitas non-Muslim untuk membangun dan mengembangkan ekonominya seperti ternak babi dan jual-beli minuman khamar. Selama memerintah, Umar menjaga jarak dengan oligarki, dan aktif berdialog dengan rakyatnya, lanjut Hamka Haq.

Umar II adalah sosok pemimpin yang patut dijadikan panutan dan teladan, terutama oleh pemimpin nasional hari ini, jika ingin meninggalkan legasi yang akan selalu dikenang oleh rakyat Indonesia, pungkas Hamka Haq, Wakil Ketua Umum PDI-P.

Tayangan ulang rekaman Webinar ini dapat diakses di channel Dialektika: https://youtu.be/TG2er8D-kCg

Tulisan ini diramu oleh M. Saleh Mude, Mahasiswa Hartford International university (HIU) for Religion and Peace, Hartford, Connecticut, Amerika dan telah disempurnakan oleh Moderator Webinar Abdul Aziz dan Profesor Dr. H. Hamka Haq, M. A.

  • Share