Elektabilitas atau tingkat keterpilihan petahana Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masih unggul atas calon lainnya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.  Meski didera perkara hukum terkait dugaan penistaan agama, Ahok masih berada di puncak hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI).

“Dalam pilihan kepada tiga calon gubernur, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) teratas dengan 32,9 persen, disusul Agus Harimurti Yudhoyono 25,1 persen, dan Anies Baswedan 23,2 persen,”  ujar Direktur Eksekutif LSI Kuskridho Ambardi di Hotel Century Park Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (15/12/2016).

“Sekitar 18,8 persen menjawab tidak tahu,” imbuhnya.

Dalam survei tersebut, LSI mendapatkan data bahwa pada bulan Mei sampai Juni 2015 hingga Desember 2016, Ahok sempat turun dari 53,2 persen dan turun ke 27,3 persen pada November 2016, dan naik kembali pada Desember 2016.

Sementara, Agus turun dari 27,3 persen pada November 2016 hingga 25,1 persen pada Desember 2016. Tren pilihan Anies sendiri cenderung stabil sejak November hingga Desember 2016.

“Orang menimbang Ahok saat Al-Maidah itu penistaan. Tetapi seiring perkembangan waktu, ada tindakan lainnya seperti informasi dan kinerja dari Ahok sendiri yang menyebabkan tren Ahok kembali meningkat,” kata Kuskridho.

Sementara itu, Kuskridho juga menjelaskan, dalam pilihan kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, peta dukungan tidak berubah signifikan.

“Ahok-Djarot mendapatkan 31,8 persen, Agus-Sylviana mendapatkan 26,5 persen, dan Anies-Sandiaga 23,9 persen. Sementara yang tidak tahu 17,8 persen,” terangnya.

Dalam survei LSI juga terkuak, pada November 2016 tren tren pilihan Ahok-Djarot sempat turun di angka 26,2 persen. Namun kembali menggeliat pada bulan berikutnya.

Sedangkan, tren pilihan Agus-Sylviana sempat di angka 30,4 persen pada November 2016 dan turun pada Desember 2016. Anies-Sandiaga sendiri cenderung stabil dari 24,5 persen pada November 2016 dan 23,9 pada Desember 2016.

“Sudah ada bukti nyata hasil kerjanya merupakan alasan paling menonjol yang melatarbelakangi pilihan. Alasan ini menguat hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya. Inikah yang menjadi sebab mengapa elektabilitas Ahok rebound dibanding bulan lalu,” papar Kuskridho.

Tak hanya itu, dukungan terhadap pasangan Ahok-Djarot dalam beberapa bulan terakhir juga cenderung semakin solid jika dibanding dengan pasangan lainnya.

“Saat ini basis pendukung yang lebih kuat (lebih kecil kemungkinan mengubah pilihannya) tinggal sekitar 17 persen, dari sebelumnya 24 persen,” jelasnya.

Jumlah sampel dalam survei ini sebanyak 800 orang. Metode yang digunakan multistage random sampling dengan margin of error lebih kurang 3,5 persen. Responden terpilih diwawancarai lewat tatapan muka. Quality control hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen.

Populasi survei ini seluruh warga negara Indonesia di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki hak pilih, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun. Survei dilakukan dari tanggal 3 Desember 2016 sampai 11 Desember 2016.