Syekh Yusuf Al Makassari, seorang ulama nusantara yang menjadi panutan di Afrika Selatan. Namanya menjadi spirit perjuangan rakyat Afrika Selatan melawan apartheid. Nelson Mandela menyebutnya sebagai “Putra Afrika, pejuang teladan kami”.

Jejaknya di Afrika Selatan dimulai pada tahun 1693 dalam pengasingan Kompeni Belanda. Ia ditangkap oleh Belanda akibat membantu Sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, menentang Belanda.

Ia sempat dipenjara di Batavia, namun tidak lama. Ia segera dipindah ke Sailon, Sri Langka, karena Belanda khawatir dengan pengaruh Syekh Yusuf, meski para pengikutnya telah dipulangkan ke Sulawesi Selatan.

Di Sri Langka, kharisma Syekh Yusuf tidak pudar, malah semakin menguat. Banyak penduduk Sri Langka yang masuk Islam karena pendekatan Syekh Yusuf yang humanis.

Selain itu, Syekh Yusuf juga berhasil membangun jejaring dengan jamaah haji asal Nusantara yang transit ke Sri Langka sebelum ke Mekkah. Dari jejearing itu, ia berhasil membangun komunikasi dengan Kesultanan Banten dan Kerajaan Gowa.

Melihat pengaruh Syekh Yusuf yang semakin menguat, Belanda mulai cemas. Pada tahun 1693, Belanda mengasingkan Syekh Yusuf lebih jauh lagi, Afrika Selatan.

Di Afrika Selatan inilah, jejak petualangan Syekh Yusuf berakhir. Pada 23 Mei 1699, Syekh Yusuf meninggal dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Cape Town.

Jenazah Syekh Yusuf dipulangkan ke Makassar pada 1705 atas permintaan Sultan Gowa, Abdul Jalil (1677-1709).

Kemudian jenazahnya dikebumikan di kompleks makam bangsawan di Lakiung, yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Gowa.

Pada 2009, Syekh Yusuf mendapat penghargaan Oliver Thambo, yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki. Gelar itu diterima oleh ahlis waris dan disaksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Biografi Syekh Yusuf

Syekh Yusuf Al Makassari lahir di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan, pada 3 Juli 1626. Ia lahir 21 tahun setelah Islam diterima sebagai agama resmi di Kerajaan Gowa (1605).

Nama aslinya Muhammad Yusuf, terkenal dengan gelar Syekh al Haji Yusuf Abu Mahasin Hadiyatullah Tajul Khalwati al Makassari al Bantani.

Di kota kelahirannya sendiri, ia lebih dikenal oleh para pemujanya dengan gelar Tuanta Salamaka (Tuan kita yang selamat dan mendapat berkah).

Sejak kecil, Yusuf sudah menampakkan tanda-tanda kecintaannya kepada ilmu pengetahuan keislaman. Ia berhasil menamatkan Al Quran dalam waktu yang singkat.

Kemudian ia belajar nahwu-sharaf, mantiq (logika), gaya bahasa (bayan dan ma’ani), serta balaghah.

Konon Syekh Yusuf merupakan murid dua syekh yang terkenal di daerah Makassar pada waktu itu, yaitu Sayyid Ba’lawi bin Abdullah al Allamah al Tahir dan Jalaluddin al Aydid.

Seorang Petualang dan Pejuang

Sejarah mencatat, Syekh Yusuf adalah seorang petualang. Dalam perjalanan Haji pada 1645, Syekh Yusuf singgah di banyak tempat, seperti Banten, Aceh, dan Yaman.

Di tempat-tempat singgah itu, ia bertemu dengan Sultan Ageng Tirtayasa, Nuruddin Al Raniri, Syekh Abdullah Muhammad Abdul Baqi, dan ulama-ulama yang lain.

Syekh Yusuf banyak menimba ilmu pengetahuan dari setiap tempat yang ia singgahi. Seperti ketika di Aceh, ia berguru kepada Syekh Nuruddin ar Raniri. Dari ar Raniri, ia belajar ilmu tasawuf dan tarekat.

Selain seorang petualang yang haus akan ilmu pengetahuan, Syekh Yusuf juga seorang pejuang  yang gigih melawan Belanda.

Ketika kesultanan Banten (di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa) bertempur dengan Belanda, Syekh Yusuf ikut membantu kesultanan Banten bersama-sama dengan Pangeran Purbaya dari Kesultanan Mataram.

Pertempuran itu berlangsung selama dua tahun (Februari 1682-Desember 1683). Dalam pertempuran itu, Kesultanan Banten mengalami kekalahan.

Akibat dari kekalahan itu, Syekh Yusuf ditangkap dan kemudian diasingkan hingga ke Afrika Selatan.

Atas jasa sebagai seorang ulama dan pejuang, Syekh Yusuf mendapat gelar pahlawan dari Presiden Soeharto pada 7 Agustus 1995. (*)