Tafsir The Message of The Quran memiliki beberapa keunikan kalau dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang lain. Tafsir ini dikarang oleh seorang keturunan Yahudi bernama Muhammad Asad atau Leopold Wiss, nama dari orang tuanya.

Asad lahir di Austria. Ia dididik dengan ajaran Yahudi yang ketat karena ayahnya merupakan Rabi yang terkenal di kalangan Yahudi Austria.

Abdul Aziz, atau yang akrab disapa Kang Aziz dalam diskusi online bersama Lembaga Kajian Dialektika (LKD) dengan tema “Tadarus Tafsir The Message of The Quran Karya Muhammad Asad” menjelaskan bahwa perjalanan hidup telah membawa Asad masuk Islam pada tahun 1962.

Ia mengatakan bahwa Asad, meskipun bukan seorang Muslim, akrab dengan pemikiran dan tradisi Islam. Pada tahun 1947, Asad diminta oleh Mohammad Iqbal merumuskan dasar-dasar negara Islam Pakistan, yang saat itu sedang dalam gejolak pemisahan dari India.

“Ia dipanggil Mohammad Iqbal dan mendapat kewarganegaraan Pakistan,” kata Kang Aziz.

Selanjutnya pada tahun 1961, atau setahun sebelum masuk Islam, Asad sempat menulis The Government and The State. Buku tersebut, kata Kang Aziz terinspirasi oleh kebijakan-kebijakan Khalifah Umar bin Khattab.

Tafsir The Message of The Quran karya Muhammad Asad ini menurut Kang Aziz mempunyai karakteristik yang rasional, meskipun Asad banyak merujuk kepada kitab tafsir klasik.

“Misalnya Mafatihul Ghaib karya Fahrudin Ar Razi, atau Tafsir Quranul Adhim karya Ibu Katsir, atau Tafsir Kasyaf karya Zamakhsyari,” ungkap Kang Aziz.

Kang Aziz menduga bahwa karakter rasional dalam The Message of The Quran ini terinspirasi oleh rasionalisme Mu’tazilah, atau rasionalisme Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Sisi rasional The Message of The Quran ditunjukkan Kang Aziz terutama dalam menjelaskan hal-hal yang ghaib. Misalnya ketika menafsirkan kata “jinnah” dalam ayat “minal jinnati wan nas”.

Menurut Asad “jinnah” bukan sebagai jin sebagai makhluk ghaib sebagaimana yang dipahami banyak orang.

“Bukan seperti itu. Muhammad Asad memahami bahwa Jinnah adalah kekuatan alam yang misterius dan yang tak dipahami. Yang mengganggu aspek psikologis manusia. Apapun itu,” kata Aziz.

Selain rasional, keunikan lain dari The Message of The Quran adalah adanya footnote atau catatan kaki. Aziz menjelaskan kebanyakan tafsir yang ditulis dalam bahasa Inggris itu biasanya menggunakan catatan kaki untuk menjelaskan hal-hal tertentu.

“Hal itu merupakan suatu yang lazim dalam literatur tafsir modern, baik yang ditulis oleh Abdullah Yusuf Ali, Muhammad Ali, ataupun misalnya Muhammad Asad,” kata Aziz. (Bersambung)